Sebuah kehidupan yang tak merata. Ada kabar baik dan sebaliknya. Kata-kata ini bukan kata biasa. Ia ada dan menyala.

Kinipan, Atas Nama Kekuasaan dan Ambisi

Semenjak hutan ditebang untuk kepentingan segelintir orang. Tanpa sepengetahuan penduduk lokal terkait alih fungsi lahan. Dari semua masalah itu, menciptakan masalah baru. Yaitu kerusakan lingkungan
Kinipan, Atas Nama Kekuasaan dan Ambisi
Keterangan : ketika dalam kegiatan nonton bareng kinipan, kedai arfat (01/04).

Tragedi penggundulan hutan di Kalimantan Tengah, tepatnya di Desa Kinipan, Kecamatan Batang Kawa, Kabupaten Lamandau. Pada bulan Agustus, Tahun 2020.

Tepat dalam perenungan dan pembicaraan sebuah masalah yang terjadi. Dibulan April 2021, di kedai Arfat. Bersama sindikat aksata, menggelar nonton bareng (NOBAR) film kinipan dan diskusi bersama Wahyu Eka dari WALHI Jawa Timur.

Dalam diskusi, Wahyu Eka juga menuturkan “Krisis lingkungan sekarang ini bukan berarti dari faktor alam, melainkan terjadi dari negara yang terus melakukan korporasi-korposasi hingga menciptakan iklim oligarki”.

Baca juga : Mahasiswa UMM Berikan Edukasi Pangan Sehat Untuk Anak

Menyoroti beberapa area khususnya peralihan fungsi lahan yang tidak memperhatikan wilayah. Menurut Wahyu Eka “Dalam era milenial banyak sekali hal yang sangat tidak berimbang dilini reproduksi sekarang ini sangat tidak memperhatikan kebutuhan sekitar, bahkan yang diperhatikan ada laba dalam satu pandangan. Maka memang kedudukan kapitalisme sangat terasa dalam kedudukan nya dalam lingkungan dan akulumasi premitif kepada lingkungan hidup.”

“Didalam sektor lahan dan lingkungan, akumulasi premitif sangat berdampak, karena ada relasi pasar kepada negara sekaligus mengikat aktor-aktor baru”. Tambahnya.

Menyoroti film kinipan tentu sekilas kita bisa memahami perkara kerusakan ini terdiri dari beberapa perkara. Dilahan yang rusak, sebenarnya itu lahan yang berstatus hutan adat. Disetiap proses perijinan, tentu tidak dijinkan oleh warga kinipan.

Baca juga :Tomat Ranti Ciri Khas Sambal Tempong Banyuwangi

Dalam sesi diskusi terakhir, Wahyu Eka juga menambahkan “Bagaimana cara kita reklaim kepada negara kita, sejauh ini sipil hanya dilihat sebelah mana. Seperti aksi kemarin saat International woment day (IWD). Karena reklaim aksi memang perlu agar kita tidak diremehkan. Namun kedudukan analisa individu terutama mahasiswa dan aktivis lainnya, harus beranjak dewasa dengan setiap kondisi. Maka keseriusan gerakan harus kuat dalam kesolidaritasan para sipil” tutupnya.

Total
0
Shares
Previous Article
Peringati Isra Mi’raj, PMM UMM 55 adakan Festival Anak Shaleh

Peringati Isra Mi’raj, PMM UMM 55 adakan Festival Anak Shaleh

Next Article
PMM 46 UMM, Membuat Handsanitizer Bersama Ibu RT

PMM 46 UMM, Membuat Handsanitizer Bersama Ibu RT

Total
0
Share