Sebuah kehidupan yang tak merata. Ada kabar baik dan sebaliknya. Kata-kata ini bukan kata biasa. Ia ada dan menyala.

Swasta dan Negeri sekedar Nama, Ini soal Duit

Beberapa waktu lalu, terdengar kabar, ada sebuah kampus yang mendapatkan gelar nomer 1 didunia sebagai kampus islami. Yap, itu Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). Kabar itu entah benar atau tidak, saya tidak tahu. Yang pasti, Tuhan lebih tahu.

Prihal gelar ataupun predikat terbaik sekalipun, itu akan percuma. Bilamana, kemarin sebelum di umumkan gelar yang mendunia itu, terdapat kabar atas Aksi menutut penurunan SPP.

Saya takut bila gelar itu hanya sekedar pengalihan isu dan sengaja untuk menggembosi gerakan mahasiswa, yang menginginkan turunnya SPP. Pastinya kita sebagai mahasiswa merasa merana, ketika pandemi seperti ini biaya tidak turun, kampus sudah tidak maksimal sebagaimana mestinya. Lantas saya harus bagaimana sebagai mahasiswa yang cuma daring ini?

Kalo boleh jujur, representase keuangan di UMM sejauh 2tahun terakhir, tidak ada keterbukaan anggaran. Jika mahasiswa bertanya soal hal demikian, maka banyak sekali tekanan intimidasi serta diskriminatif yang akan dilakukan kampus. Itu bisa dipraktekan sendiri jika mau coba, hehe.

“lu mampu bayar spp berarti lu sultan? Sebuah narasi yang biasanya dikaitkan dengan UMM kampus Sultan, Miskin Minggir Dulu”

Jujur dalam hati, saya kurang nyaman dengan kondisi gaya-gayaan yang tidak menghargai masyarakat kampus yang lain. Mahasiswa UMM, tidak sepenuhnya kaya, tapi ini beragam.

Bahkan ada yang putus kuliah karena mahalnya biaya, ditambah lagi dengan mahasiswa yang cuti guna mencukupi hidup diperantauan.

Memang ini sangat menyakitkan bukan? Lu harus sadar keadaan seperti ini. Sekarang bukan lagi mendebatkan kekuasaan BEM maupun Pihak elite lagi. Tapi bagaimana kesadaran kelas bisa terwujud sebagaimana mestinya. Dan sebagai kaum terdidik, tentu kita harus melawan komersialisasi pendidikan, apalagi kampus kita sendiri sebagai ladang komersialisasi.

Baca Juga : Motor Klasik Menyimpan Nilai Tersembunyi

Kita bergerak bukan berarti, membenci dan ingin menjatuhkan nama baik kampus. Tapi gerakan kita hari ini dan seterusnya, adalah wujud cinta kita kepada sesama manusia. Bagaimana pun, gerakan muncul dan melahirkan gagasan perubahan.

Jika ada yang mengatakan gerakan itu merusak, menindas, melukai? Berarti mereka yang tidak mengerti apa itu cinta, apa itu hidup.

Total
1
Shares
Previous Article
Predikat Kampus Islami Terbaik Untuk UMM Yang Lebih Baik

Predikat Kampus Islami Terbaik Untuk UMM Yang Lebih Baik

Next Article

Mahasiswa UMM Berikan Edukasi Pangan Sehat Untuk Anak

Total
1
Share