Sebuah motor klasik tentu sangat menarik hati para kaum muda maupun dewasa, ngomong-ngomong soal klasik di era ini memiliki perbedaan drastis dibanding pada tahun sebelumnya. Menyoroti beberapa kejadian seperti banyak nya bengkel dan juga motor yang bervariasi. Jurnalis Didaktik Rifki (22) bersama Roin (27) atau  yang sering dipanggil Bogel, merupakan pengiat motor klasik dan juga mekanik motor dan repair motor di Desa Bakung, Kecamatan Kanor, Kabupaten Bojonegoro (4/2/2020).

Keterangan: Kiri Roin/Bogel, Kanan Rifki Jurnalis Didaktik

Ada beberapa hal yang sangat mengkhawatirkan, terutama soal herex. Dari tingkat kecelakaan hingga kenakalan remaja, bogel sebagai penggiat motor klasik menuturkan “sebenarnya untuk menjadi pecinta motor itu sangat sederhana, tapi untuk herex terkadang kita sendiri memiliki masa muda, mungkin sekarang mereka memiliki cara yang berbeda. Begitu dengan kita bukan?”. Ungkap bogel yang kemarin dihubungi oleh jurnalis didaktik (4/2).

Baca juga: Kumpulan Puisi dari Sastrawan Lekra H.R Bandaharo

Menariknya dari beberapa peristiwa modifikasi motor, sekarang ini banyak sekali motor klasik yang berbody mewah dan minimalis, ditambah lagi dengan kecepatan motor yang berbeda dari kecepatan standart motor nya.

“Memang itu soal selera sih mas, untuk modif warna maupun chome, air brus. Ya karena tidak mau kalah dengan yang muda untuk model motor nya jadi banyak pecinta motor ini terus memodif. Namun untuk kecepatan itu tergantung orangnya, kalo disini di jawa timur, mayoritas pecinta motor klasik memiliki selera akan kecepatan” tambahnya bogel.

Baca Juga: Mengenal Seringai dalam Album Seperti Api

Selain dengan body ada juga ketertarikan menjadi mekanik. Mengamati mayoritas pecinta motor klasik rata-rata bisa benerin motornya sendiri, bahkan lebih ahli dari bengkel seketika diamati dari sekejab mata. Terutama dari tenar nya budaya motor klasik ini di nusantara, banyak sekali bengkel-bengkel baru dari kalangan remaja maupun dewasa yang mengadalkan jasa modif dan jasa sparepart motor.

“Kalo dibilang banyak sih, tergantung orang nya mas. Tapi konsekuensi pecinta motor klasik itu harus bisa benerin motornya sendiri, mungkin sebagai jati diri ya mas. Kalo menjadi mekanik, saya sendiri juga mekanik tapi berawal dari SMK Otomotif, mungkin berbeda dengan kalangan pecinta motor ini ya. Mungkin mereka cari pengalaman dan sensasi, ya tahu sendiri mas. Motor klasik butuh biaya lebih juga toh”. Tutup nya bogel (4/2/2020).

Mari berkometar