HR Bandaharo alias Banda Harahap lahir tanggal 1 Mei 1917 di Medan dan meninggal tanggal 1 April 1993 di Jakarta. HR. Bandaro berasal dari Sumatra Utara dan memeluk agama Islam. Dia adalah anak HR. Mohammad Said. Bapaknya bekerja sebagai konsul Muhammadiyah untuk Sumatra Timur pada masa sebelum Perang Dunia II. Ia sudah dikenal sebagai pakar Lekra.

Baca Juga:
[Resensi] Buku : konspirasi alam semesta

HR. Bandaharo juga aktif di LEKRA. HR. Bandaharo pernah menulis di majalah Pedoman Masyarakat Medan asuhan Hamka dan Yunan Nasution. Puisinya ada yang diterbitkan sebelum Perang Dunia II, yakni “Sarinah dan Aku”.

Puisi ini bersifat patriotik dengan gaya realiasme romantik. Setelah revolusi Agustus 1945 meledak di Sumatra Timur, HR. Bandaharo aktif menulis. Dia menulis dalam beberapa surat kabar di Medan. Karyanya terbit dalam majalah Kebudayaan, Zaman Baru, Zenith, Kebudayaan Baru, dan lain-lain.

Baca Juga:
3 Puisi Widji Thukul yang Cocok dengan Kondisi Sekarang

Adam Lipsia dalam mengulas “Sepuluh Sanjak Berkisah” (diterbitkan pertama kali oleh Yayasan SKBSI dan dicetak ulang oleh penerbit “World Citizen Press” Amsterdam, dengan pendaftaran resmi ISBN: 90-72669-01-0. 1987) karya Hr. Bandaharo menyatakan bahwa sajak-sajak itu adalah karya yang cukup baik Hr. Bandaharo yang tersebar dalam majalah Zaman Baru, Zenith, Indonesia, Kebudayaan. Kumpulan sajaknya, antara lain, adalah (1) Dari Daerah Kehadiran Lapar dan Kasih (1958), (2) Sarinah dan Aku (1939), (3) Dosa Apa, (4) Antara Dua Sungai (1959), (5) Praha (1964), (6) Aku Hadir di Hari Ini (1978), (7) Matinya Seorang Penyair (1978), (8) Metropolis (1978) dan Dari Bumi Merah (1963), karya terjemahannya adalah Hilangnya Kehormatan Katharina Blum (novel karya Heinrich Boll, 1983).  

HR. Bandaharo memperoleh penghargaan berupa Hadiah Sastra Nasional BMKN tahun 1957/1958.

***

Antara Dua Sungai

untuk Pai Yu-hua

I

Senja itu aku berdiri di tebing-beton Sungai Mutiara

Berapa lama sudah air ini bulak-balik ke laut?

Dia membawa duka dan suka dari muara,

derita berganti diusung dan dihanyutkan.

Kanton lahir dan tegak menjadi tua

bercermin air mengalir, pasang dan surut;

dia mengenal wajah sendiri dalam membisu

dia memikul beban tiada mengeluh.

Sudah berapa lama mesin-mesin menderu di sini?

Tanyakanlah pada air yang tak pernah membeda-bedakan,

lawan dan kawan didukungnya datang, didukungnya pergi.

Tanyakanlah pada Kanton yang membisu dan menahankan

pukulan dan hantaman sejarah yang membesarkannya.

Air sungai ini sejak dulu bercampur darah dan peluh

rakyat yang banting-tulang melanjutkan hidup diperas.

Pahlawan-pahlawan Pemberontakan Kanton sekali membalas

dan berdirilah komune selama tiga hari penuh.

Mungkin mayat-mayat pejuang pernah mengapar di sini

berkisar antara muara dan Kanton

menatap langit rendah musim rontok yang larut.

Di sini dimulai revolusi didukung dua kaki, kanan dan kiri

jatuh-bangun selama 38 tahun, akhirnya menang, tunggal dan merah.

Ketika malam mati di langit tak ada bintang

gumpalan-gumpalan awan bergerak berat menyimpan hujan

Sungai Mutiara seperti naga tidur membuntang

di sana-sini caya lampu membias di riak-air, membayang

seolah-olah sisik mengilatkan warna.

Kanton kelihatan bertambah tinggi tegak menegang

mendungak menupang langit yang akan runtuh.

Kapal-motor membawa barang kemalaman dari muara

mendengus kesaratan, sesekali menyentak menjerit panjang;

suara peluit itu terempas pada keterjalan kelam

menjadi serak dan pecah seperti lenguh sapi kelelahan.

Di saat-saat begini orang hanya berteman diri sendiri.

Ada yang rindu lalu menangis melegakan hati

ada yang memendam cinta, mengigau lena bermimpi

yang berdosa menyesali hari-hari lalu, harap pengampunan datang

yang dirundung duka merintihi luka dalam kesepian.

Di saat-saat begini aku merangkul dunia ke dalam pelukanku

terasa seluruh keharuan melebur dan kunikmati

dalam kegairahanku menyambut hari baru.

Tiada kesendirian pada kematian malam

karena genderang fajar menyingsing kudengar bertalu.

Dan Si Mungil diperkenalkan padaku sebagai teman

dalam perjalanan antara dua sungai, Mutiara dan Yalu.

Ah, alangkah lapang terasa dada, ketika Si Mungil menyapa

mengulurkan tangan sambil tertawa, “Selamat datang di negeri kami!”

Kenyamanan bukanlah bikinan, dia memancur dari hati

yang diantar ucapan Si Mungil, “Anggaplah negeri ini negeri sendiri.”

“Mungil,” kataku, “aku ini pengembara sejak mudaku;

hatiku melintasi samudra dan berada di semua benua

pikiranku menerawang menggarisi angkasa ke semua penjuru.

Negeri ini negeri tua yang puas dilanda derita setiap zaman,

tapi terlihat dan terasa sesuatu yang baru sedang mengembang

menebar di bumi dan langit yang mempesona setiap orang

untuk berdiri atas dua kaki dan mempergunakan tangan

siang-malam mengolah tanah, memperbarui yang lama

serta menegakkan kokoh yang baru-baru, berlomba-lomba

dengan kepulan asap pabrik menjulang tinggi.

Katakan padaku, apa sedang bersemi di negeri ini?”

“Negeri ini negeri kerja,” kata Si Mungil, “dan musim semi abadi

meliputi hati kami. Rakyat yang tegak melemparkan duka-duka lama.

Dari perut bumi kami gali kehidupan dan kami tegakkan bersama-sama

menjadi kenyataan yang memberi bahagia dan suka.

Dan bunga baja memerahi seluruh negeri.”

II

Di daerah antara dua sungai ini tiada persoalan pemilikan

tanah; orang sudah menguasai tanah dengan dua tangan.

Mereka suburkan tanah tandus dan keringkan rawa-rawa

mereka ratakan gunung dan timbuni laut, dan begitu saja

mereka alihkan arus dan pindahkan lembah-lembah.

Aku melihat tanah ditundukkan dan dipaksa menghasilkan

menurut ketentuan yang diperlukan dan menurut jatah-jatah.

Tanah seolah-olah gembira menyerahkan isinya yang terpendam

ratusan, ribuan tahun: bijih-bijih besi dan berbagai logam,

batu-bara dan segala macam yang sekalipun Jules Verne

tak pernah mengangankan. Pabrik-pabrik dan tanur-tanur berdiri

mulai dari bengkel-bengkel dan dapur-dapur kampungan

sampai kepada pabrik-pabrik dan tanur-tanur raksasa di Ansan,

di Wuhan, dan menebar di seluruh negeri

sebab di daerah antara dua sungai ini kerja tak pernah henti.

Ai, alangkah mempesonanya kerja ini:

kerja yang pertama-tama menciptakan dua belah tangan

kemudian dua belah kaki, dan terciptalah manusia baru,

manusia yang berjalan atas dua kaki dan bekerja dengan dua tangan

manusia yang menguasai tanah dan menundukkan tanah itu

menurut rencananya: lima tahun pertama, lima tahun kedua,

maju melompat menunggang kuda bersayap, dan menang.

Aku melihat petugas-petugas pilihan rakyat bekerja berlomba-lomba

dengan pemilih-pemilihnya; dipilih berarti dipercayai

dan di sini kepercayaan lebih berharga dari mas-intan

karena kepercayaan berarti kesempatan dengan kecakapan mengabdi negeri.

Bayangkan seorang pekerja terbaik di antara 600 juta manusia

yang jadikan kerja kebutuhan hidup, serupa minum dan makan;

dia pasti seorang Titan, yang pernah menaklukkan Yangce-kiang

mengalahkan banjir dan musim kering, yang menciptakan cantata-cantata,

yang melakukan long march, melewati seribu gunung dan seribu sungai.

Dan Titan-titan ada di semua bidang kerja, mulai bidang pemusnahan hama

lewat pengumpulan besi-tua sampai ke pembikinan baja,

dari pemberantasan buta-huruf sampai penciptaan balada Sungai Mutiara.

Daerah antara dua sungai ini adalah daerah Titan-titan, sambil bernyanyi

membangun titi dan bendungan, menegakkan gedung-gedung belasan tingkat

beradu-tahan menghadapi dapur-dapur pengecoran dan api menjilat-jilat

berkompetisi menghasilkan baja, juga berlomba membunuh lalat.

Aku berjumpa dengan mereka, bersalaman dan bersenda-gurau

tawanya lebar, kelakarnya sehat. Mereka anak-anak rakyat

dibesarkan derita dan juang: dengan ideologi mereka tegak dan maju

akhirnya menang. Nyanyi bergema sepanjang hari, musim semi di semua hati

kemakmuran datang ke desa, kemakmuran datang ke desa.

III

Aku datang ke daerah antara dua sungai ini dengan hati terbuka

aku disambut dengan uluran tangan, dengan bunga, dengan rasa persahabatan

yang terasa nyaman segar seperti simburan ombak mendampar ke pantai.

Aku berjumpa dengan seorang Komunar Kanton, dengan dia aku bicara

aku berjumpa dengan peserta long march, padaku dia bercerita

aku berjumpa dengan penyanyi-penyanyi, dengan penari-penari, dengan sastrawan-sastrawan

kami cerita-menceritai tentang masa silam yang sudah dikalahkan

dan beradu dalil tentang pemilihan jalan menuju masa depan gemilang.

Di daerah ini jalan sudah dipilih, kuda bersayap sudah mendompak.

Aku bicara dengan seorang buruh tua di Peking

dengan seorang Haji bangsa Hui di Tiencing

dengan direktur pabrik mesin-berat di Senyang

dengan penempa baja di Ansan

dengan penjaga pameran industri di Nanning

dengan pedayung sampan di Sungai Li di Kuiling

dengan penyanyi opera klasik di Kanton

dengan supir-supir taksi, dengan buruh kereta api

dengan petani-petani di Komune Rakyat

dengan penjual buah-buahan di tepi jalan

dengan dokter-dokter, dengan gubernur-gubernur dan walikota-walikota

dengan pemain-pemain sulap dan akrobat-akrobat

ya, aku bicara dengan siapa saja, seperti aku sedang kecarian.

Ai, aku memang mencari: aku mencari petani yang bernyanyi

“Begitu banyak bintang di langit, lebah banyak hutangku pada kaisar”

Aku mencari pengembara seperti digambarkan Li Yu Tang, yang

menikmati kehidupan dengan bermalas-malas, tanpa kerja ialah kebahagiaan.

Aku mencari sisa-sisa sesuatu yang masih ada di pikiranku sendiri.

Dari yang lama hanya ada peristiwa-peristiwa, batu-batu istana yang mati

pengobatan dengan jarum, opera klasik dan tradisi-tradisi

tapi ini semua pun sudah berkembang

yang tiada daya berkembang, yang beku akhirnya musnah sendiri.

Burung Feng Huang lama sudah membakar dirinya menjadi abu

dan dari abu ini lahir Feng Huang baru

yang sudah menjalani pesucian, yang kini bernyanyi:

“Kita kuat, kita bebas

kita tanpa takut, kita abadi!”*

IV

Aku meninggalkan Kanton

dan akhirnya Sumcun, stasiun perbatasan.

Di hatiku Feng Huang bernyanyi:

Aku api

Kau api

Api adalah api

Mari menjulang tinggi

Mari bernyanyi suka, mari bernyanyi!

Negeri Cina

Agustus-Oktober 1959
* Dari kumpulan sajak Kuo Mo-yo “The Goddesses”
(dari: Lintasan Ingatan)

Malam

aku melawan malam, memusuhi kelam

yang menyembunyikan wajah-wajah jelek

yang menyuburkan kebejatan

yang mengaburkan kemunafikan.

aku membenci malam

bila anjing-anjing melolongi langit

selagi bintang-bintang gemerlapan.

malam dan kegelapan

sama dengan kepalsuan.

penyulapan putih menjadi hitam

penyajian mesum sebagai suci

pengkhianatan sebagai bakti

yang palsu sebagai yang sejati.

tapi aku pun dilahirkan malam

ketika kelam menyelimuti kekasih berpelukan

dan kerinduan mendengus kepuasan.

malam seperti ini menjadi teman

ketika pikiran menyusuri jalan-hidup

yang ditempuh – larut dalam kenangan.

bila kemilau bintang-bintang menjadi redup

kumbang bercumbu berhenti berdengung

nyamuk-nyamuk kekenyangan menggelimpang tiada daya

aku lena tertelungkup –

air-liurku membasahi lembaran-lembaran kafka

dan embun subuh membasahi kawat-duri.

[Dari kumpulan: Surat-surat Desember, (1965)]

Api yang Nyala

ada kalanya seseorang merasa kesunyian

bila tiada mampu menjawab hati sendiri

dari godaan tanya: mengapa? mengapa?

sedang putra-putri terbaik rebah di mana-mana

seperti batang-batang padi disabit di sawah-sawah

lalu di tiap kata ada prasangka

di tiap mata ada keraguan:

untuk apa? mau ke mana?

di saat-saat seperti ini, ya, di saat-saat ini

hanya cinta-kasihmu, istriku sayang,

yang mengikat aku pada kehidupan ini,

yang menggugah kesadaran diri.

kerinduan padamu dan kepastian bahagia bertemu

adalah api yang nyala,

nyala selalu.

[Dari kumpulan: Surat-surat Desember, (1965)]

Metropolis (1978), X

Untuk Joshi Hota

Hanya kemenangan, percayalah, hanya kemenangan

mampu mendukung kebenaran dan keadilan.

Bukan kejujuran. Kejujuran ada di hati penyair

yang memendam cita-cita dan harapan –

pada hakikatnya itu pun hanya ilusi.

Koruptor jadi penyelamat

karena dia membawa bunga dan madu. Dan nasi

yang harum, tidak bau keringat.

Penyair jadi teroris

karena dia melemparkan sajak. Dan nyanyi

hatinya yang tersayat, teriris.

Hidup ini akhirnya hanya mimpi. Mimpi

yang indah maupun yang ngeri.

Mati berarti bangun tersentak. Dan menyadari:

sekarang baru kehidupan akan dimulai.

Jakarta metropolis, sorga dan neraka

dalam mimpi. Hanya mimpi.

Maka istigfarlah, wahai penyair,

dan berdoa dalam hati

Ya, dalam hati saja

[Dari kumpulan: Metropolis (1978)]

Unyang

bocah itu lahir di hutan rambung

belum sempat belajar dari pepohonan

dan kicau margasatwa

ibu membawanya merantau ke daerah pantai

dilarikan dari suatu peruntungan

ke dalam peruntungan baru

ia tumbuh bermenung

merenungi laut ke pantai menderu

membanting diri dan santai

berpelukan lalu berpisah

bergiliran ombak demi ombak menerpa

mencium pantai dan berdesah memecah

lalu hilang menjadi busa

menyatu kembali dengan keluasan

di matanya bertemu biru laut dan biru langit

dan kilat pasir pantai

yang memancarkan berjuta bias cahaya

hanya berteman unyang yang tua-renta

lebih tua lagi dari pohon-pohon di hutan

tapi bagai batang ranggas tak rela tumbang

tegak bertahan menantang angin

unyang bekas pelayar pengarung lautan

perantau ke pantai yang jauh-jauh

kadang lanun kadang perisau

*

dengan perahu lanun bertiang satu kami berangkat

menuju laut lepas

selama setahun layar tak pernah digulung

tak pernah dibuang jangkar

ketika angin mati perahu mengambang

di atas permukaan laut laksana kaca bersinar emas

pendayung-pendayung telanjang badan mandi keringat

napas berdengus seperti kerbau dipasung

tak ada air tak ada makanan

tak kelihatan tanah tepi tak ada burung terbang

perahu sarat oleh harta rampasan

sesudah lima hari lima malam

pendayung-pendayung tak mampu bertahan

satu demi satu kepayahan dan tumbang

malam keenam angin kencang datang bertiup

tak seorang pun sadarkan diri

aku pingsan terkulai memeluk kemudi

perahu meluncur mengikutkan kehendak angin

diimbangi kemudi dalam pelukanku

dan begitulah berhari-hari kami berputar

bolak-balik masuk pelabuhan

dan bolak-balik ke laut lepas

perahu hantu tanpa awak

akhirnya terdampar

di pulau sunyi

aku tersentak

wajahku ditampar ombak

angin mendesau memintasi pulau

tak ada teman yang bangkit lagi

mereka berkubur di pulau sunyi

dan harta kukuburkan bersama mereka

*

setelah sekian musim merantau

aku pulang seorang diri

terasa kehilangan teman terasa sunyi

berkali-kali aku mencoba berlayar

menyusur dari pulau ke pulau

hasrat mengangkut pulang harta karun

tapi kehilangan arah kehilangan pedoman

terkatung-katung dari pulau ke pulau

ejekan dari kuburan terngiang di telingaku

entah berapa musim aku terlantar di perantauan

ditinggalkan oleh awak perahu yang pulang

kehilangan kepercayaan pada kewarasan otakku

aku pun akhirnya menyangsikan kebenaran

peristiwa yang kualami sendiri, mungkin hanya mimpi

mendengar kisah-kisah pelaut dan melihat hiasan

tato di dada dan lengan mereka tentang harta

tersembunyi di gua-gua di sungai jauh-jauh

tentang perkelahian berdarah perompak lanun

tentang maut menerpa di tengah laut

tentang perempuan-perempuan menanti di pelabuhan

tentang burung kakatua pandai bertutur membawa celaka

aku pulang tapi tak bisa beranjak dari pantai

terikat pada pulau perahu dan laut

menjadi tua menanti mimpikan mimpi tak tercapai

itulah mimpi unyang

dalam mimpi tak berujung

1983
* unyang = ayah dari kakek/nenek 
[Dari kumpulan: Perhitungan]

Puisi Viva Cuba

Viva-Cuba

Sumber :

Sumber :
[1] http://ensiklopedia.kemdikbud.go.id/sastra/artikel/HR_Bandaharo 
[2] http://kepadapuisi.blogspot.com/2014/06/aku-hadir-di-hari-ini.html
[3] https://19651966perpustakaanonline.wordpress.com/2018/11/23/penyair-lekra-h-r-bandaharo-menempuh-jalan-rakyat-tak-seorang-berniat-pulang-walau-mati-menanti/

Mari berkometar