Sebuah kehidupan yang tak merata. Ada kabar baik dan sebaliknya. Kata-kata ini bukan kata biasa. Ia ada dan menyala.

Bakar Almamater mu, Kita Senasib Seperjuangan

Bakar Almamater mu, Kita Senasib Seperjuangan
Bakar Almamater mu, Kita Senasib Seperjuangan

“Jujur, saya lelah melihat gerakan mahasiswa yang terlalu berwarna-warni diantara aksi-aksi gerakan rakyat. Kerasahan ini tidaklah biasa pasalnya, dari bendera dan almamater itu, menimbulkan gejolak konflik politik identitas yang tidak bisa lepas dari warna.” Dari keresahan itu saya menulis ini, untuk memberikan tamparan keras terhadap mereka yang masih ego-sektoral, berbendera.

Baca juga:
Gemuruh Pendidikan Ditengah Pandemi COVID-19

Aksi-aksi demontrasi masih berlanjut dari beberapa perkara kerakyatan. Seperti beberapa bulan terlewati di sepanjang tahun 2020. Gerakan Tolak Omnibus Law, hingga Gerakan Cabut Omnibus Law. Dari beberapa masalah pemeritahan yang non konstitusional dan demokrasi oligarki. Membuat gejolak gerakan muncul dipermukaan, diawali dengan amarah terhadap pemerintah yang sewenang-wenang, baik itu pihak aparat sampai pejabat Negara itu sendiri.

Sekian lama aksi berlanjut, mahasiswa yang berhaluan institusional baik melalui BEM-SI, BEM-NUS, BEM-RI. Itu semua adalah perusak, menurut saya. Sebab diantara para mahasiswa pasti mereka memiliki warna identitas organisasi ekstra kampus. Tak hanya itu, mereka juga turut menghancurkan gerakan yang telah terdidik dan terorganisir. Seperti isu yang ada, bahwa selama ini mahasiswa sengaja mengklaim gerakan untuk kepentingan institusional dan hasilnya mereka mendapatkan empati, simpati dari para seniornya, disaat itu pula mereka akan mendapatkan proyek.

Baca Juga:
[Resensi] Film, My Flag ‘Nasionalisme Vs Radikalisme’

Saya sangat resah dari kelakuan Mahasiswa yang terlalu lucu, bahkan kalian (Mahasiswa) rela melakukan ini karena kepentingan diri sendiri, sungguh kejam bukan ? ya ini sudah terjadi dari gerakan reformasi 98, seperti senior mereka budiman sujatmiko, adian napitulu, fahri hamzah, fadlizon. Saya tidak bisa membanyangkan jika itu terulang kembali, mahasiswa-mahasiswa yang mengklaim sebuah gerakan seperti ia memkul ibunya sendiri.

Cukup dan sudahi ego sektoral kalian, apa kalian gak sadar ? bahwa kalian sudah terlalu berdosa, menghianati mereka yang turun dijalan, mereka yang jadi martir, mereka yang terbungkam. Sudahilah warna kampus, warna organisasi. Sekarang, kalian berbaris bersama, lupakan soal akademis, lupakan soal nasib, karena aksi sebagaian dari iman. Nasib rakyat ada dalam aksi ini.

Cinta ibu adalah kalian turun dijalan memenuhi setiap trotoar, berteriak kebebasan, menyerukan ‘insureksi’ dari setiap lorong, kampus, kampung, karena setiap warna-warni akan terasa mengkekang gerak-gerik kalian, dari sektor kepentingan bahkan organisasi. Maka warna yang cocok untuk kalian adalah ‘hitam’ sebab merah, kuning, hijau, biru, adalah warna masa lalu. Karena hitam menyatukan rasa, warna, mereka yang kalah, mereka yang terluka. Hitam adalah kita api perlawanan.

Ingat itu baik, para BEM para Mahasiswa Organisasi, lupakan soal identitas, lupakan eksistensi, karena kita adalah rakyat. Satu kata tanpa istilah lain, dengan setiap rasa yang sama, kerena rakyat adalah kita yang berhakikat pada manusia yang berani dan yang melawan.

Total
2
Shares
Previous Article
Soe Hok Gie, Manusia Yang Merdeka

Soe Hok Gie, Manusia Yang Merdeka

Next Article
Kumpulan Puisi dari Sastrawan Lekra H.R Bandaharo

Kumpulan Puisi dari Sastrawan Lekra H.R Bandaharo

Total
2
Share