Didaktik – Soe Hok Gie sangat dikenal dan digemari dikalangan mahasiswa, terutama aktivis dan Mahasiswa Pecinta Alam (MAPALA). Walaupun sosok, Gie dikenal sebagai sosok pemuda yang berintelektual tinggi serta memiliki pendirian yang kuat, nyatanya banyak yang belum banyak yang mengenalnya.

Gie juga merupakan seorang penulis yang aktif dan rajin, ia sering menulis tentang kesehariannya, seperti karya yang dihasilkan nya seperti, ‘Catatan Seorang Demonstran’, Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan, Jaman Peralihan, dan juga Dibawah Lentera Merah yang merupakan skripsi serjana mudanya. Buku ini seperti menjadi pedoman untuk mahasiswa kritis dan independen.

Baca Juga : [Resensi] Film, My Flag ‘Nasionalisme Vs Radikalisme’
Sumber Gambar: Fgionatanael.blogspot.com

Sejak umur 15 tahun, Gie sangat kritis dalam berbagai hal, termasuk pada saat gurunya tidak bisa membedakan antara penulis dan penerjemah. Gie menumpahkan kekesalannya dengan berkata “Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

Gie memandang politik itu kotor. Namun demi menjatuhkan Rezim Soekarno, Gie terpaksa masuk kedunia politik. Tidak hanya pemerintahan ia kritik, pimpinan mahasiswa pun dikiritik olehnya. Gie berpendapat bahwa aksi mahasiswa harus dilakukan secara murni karena moral dan hati nurani, bukan karena politik dan jabatan.

Baca Juga : Mengenal Seringai dalam Album Seperti Api
Sumber Gambar: intisari.grid.id

Ia juga mengkritik komunisme dengan membandingkan ekonomi politik Marxisme. Menurut gie keputusan soekarno pada saat itu sangat mengecewakan saat soekarno tidak membubarkan PKI, tentu saja itu karena kepentingan politik. Soekarno menaikkan harga agar pembubaran PKI tidak didesak, lalu rakyat hanya memikirkan tentang perutnya.

Pada era soekarno Gie berpendapat, bahawa radio-radio hanya menyairkan kepalsuan, sedangkan kebenaran dibungkam habis-habisan.

Gerakan dalam upaya melawan, tebentuk dalam organisasi aksi Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI) yang diresmikan tanggal 25 oktober tahun 1965, melalui pergolakan antara dua kubu gerakan mahasiswa antara sayap kanan vs sayap kiri.

Namun di organisasi ini Soe Hok Gie tidak menjadi pemeran utama, hanya menjadi seorang demonstran yang ikut aksi. Dan dalam upaya melawan, Gie tidak hanya turun aksi tapi juga menuliskan artikel-artikel yang menusuk dan menyadarkan pembacanya atas situasi yang terjadi. Ia sangat kritis dalam tulisannya, sehingga beberapa tulisannya sengaja tidak dimuat agar tidak membuat kekacauan.

Kepribadian Gie yang berani dan merdeka dengan pendiriannya juga dibuktikan saat Presiden Soekarno memintanya menjadi kepala museum monymen nasional, ia lebih memilih mengambil jalan sunyi dan diasingkan. Patut saja jika mahasiswa diera sekarang mengilhami Gie, sosok yang berani berbicara lantang perihal ketidak adilan dan kesenjangan, serta sosok yang suaranya ditakuti oleh para penganut politik kotor.


[1] baca: https://mapala.ui.ac.id/sejarah
[2] baca: https://id.wikipedia.org/wiki/Soe_Hok_Gie
[3] baca: https://historia.id/politik/articles/prabowo-di-mata-soe-hok-gie-vqj9K
[4] baca: https://medium.com/@wiwitastari/ulasbuku-1-soe-hok-gie-catatan-seorang-demonstran-f15c73c36b8e
[5] baca: http://digilib.uinsby.ac.id/13275/6/Bab%203.pdf
[6] baca: https://jurnalmahasiswa.unesa.ac.id/index.php/avatara/article/view/8844

Mari berkometar