Judul : MY FLAG – MERAH PUTIH VS RADIKALISME
Sutradara
Produser: NU CHANNEL
Produksi: Televisi NUChannel Satelit Ninmedia
Durasi: 7 menit 29 detik


Didaktik – Film terbaru yang diunggah pada (Jumat, 23/10/2020) menggemparkan nitizen nusantara. Bermula dengan film pendek tentang nasionalisme, yang berjudul MY FLAG, menampilkan sekelompok santri yang sedang mendengarkan ceramah seorang pendakwah tentang pentingnya simbol persatuan bangsa. Namun, film berlanjut dengan narasi “radikalisme kontemporer” yang bercorak keagamaan. Film tersebut, radikalisme digambarkan dengan sekelompok anak muda. Dengan membawa bendera polos berwarna hitam atau putih.

Didalam adegan film tersebut menggambarkan dua kelompok, yang pertama adanya kelompok terdiri dari perempuan memakai cadar. Sedangkan para anggota lelaki memakai peci putih dan memakai baju ala Asia selatan atau Timur Tengah (Gamis).

Kelompok santri yang disimbolkan sebagai pengikut paham radikal, bertemu dengan kelompok santri yang nasionalisme, seketika itu mereka melakukan pertarungan fisik.

Santriwati merah putih (nasionalisme) digambarkan menghajar perempuan bercadar-radikalis, dan melepaskan cadar lawannya secara paksa. Momen inilah yang menarik perhatian netizen selanjutnya.

Film ini menyampaikan pesan bahwa para santri, khususnya santri NU, adalah pribadi-pribadi yang sangat peduli terhadap persatuan ke-indonesiaan. Melalui pegangan dengan bendera merah putih sebagai simbol persatuan. Nasionalisme santri.

Itulah pesan yang ingin disampaikan oleh film tersebut. Hal ini untuk mengingatkan posisi santri sebagai penjaga negeri. 

Respon masyarakat terhadap film tersebut sangat cepat. Tetapi respon dari nitizen sangat tidak ber-imbang, dengan adanya pro kepada film, dan kontra kepada film.

Tentu ini terlihat sangat jelas, dari tingkat like dan dislike yang terus bersaing. Jumlah tayangan mencapai 600 ribu dan Komentar mencapai 35ribu, Rabu (28/10/2020).

Baca Juga : [Resensi] Film The Look of Silence (Senyap)

Dengan seluruh adegan yang berlangsung, memunculkan pihak baru, antara kelompok yang mendukung narasi film dan kelompok yang keberatan dengan salah satu adegan. Yaitu pelepasan cadar oleh santriwati yang memenangkan pertarungan fisik.

Respon nitizen muncul beragam,  Budika Rabbani , berpendapat dalam komentar Youtube di dalam video yang diunggah NU chanel, “Yang setuju pembuat filmnya ,crew, pemain dan adminnya di Ruqyah massal mana suaranya” ungkapnya.

Adapula nitizen yang kecewa terhadap film tersebut, merilis komentar youtube dengan akun Rose Die Kartika mengatakan, “Saya memang tidak bercadar, melihat film ini kok ikut sakit hati, asthagfirullah…..padahal istri nabi bercadar”.

Para pendukung film tersebut memahami maksud film tersebut, akun bernama Wahid Hasyim menuturkan “Warga Nahdiyin Pasti Tau Makna dan maksud film ini. Jika dilihat, agaknya para netizen yang turut berkomentar lebih banyak yang menolak. Tetapi, tentu ini tidak mengurangi tujuan film tersebut dibuat.”

Baca Juga : [Resensi] Film Into The Wild

Sebagai sebuah karya, film pendek tersebut pasti setiap pembuat dan pengarangnya memiliki niat serta tujuannya sendiri. Sehingga penonton akan membuat penafsirannya sendiri sesuai dengan ideologi, pendidikan, wawasan dan pengalaman hidup masing-masing.

Hal ini tentu menciptakan dinamika tafsir yang kompleks. Sekalipun pembuatnya ingin menyampaikan kesungguhan para santri dalam membela dan mencintai negerinya, tetapi adegan dalam satu menit saja, akan membuat sebagian orang memiliki pengertian lain seperti bahwa film tersebut bukan untuk menampilkan spirit nasionalisme-santri, tetapi “mengadu-domba sesama umat Islam.” 

Mari berkometar