Judul Album                        : Seperti Api
Penyanyi                             : Arian
Produser Rekaman              : Ricky Siahaan
Produser Eksekutif              : High Octane Production
Tahun Rilis                          : Juli 2018
Penerbit                             : Massive Music Publishing


Didaktik Setelah tidur selama 6 tahun, Seringai kembali mengeluarkan album bertajuk Seperti Api. Genre band dengan heavy metal ini memenuhi albumnya dengan 12 judul lagu. Di antaranya Hidejokasuru,  Selamanya, Adrenalin Merusuh, Persetan, Enamlima, Seteru Membinasa, A.I, Ishtarkuf, Sekarang atau Nanti, Bebal dan Omong Kosong.

Diinsiasi oleh empat orang terdiri atas Arian, Ricky Siahaan, Sammy Bramanto dan Edy Khemod. Musiknya yang keras menjadikan lirik terdengar samar, terlebih bagi penggemar rock pemula akan sangat sulit mengidentifikasi kata yang dialunkan bila tak membaca rinci lirik lagunya.

Album sebelumnya yang memang sudah sukses yaitu High Octane Rock pada tahun 2004, Serigala Militia pada 2007disusul album Taring pada 2012 silam. Band yang dibentuk pada 2002 asal Jakarta ini kiprahnya tak perlu ditanyakan lagi. Salah satunya saat Metalica menggelar konser di Indonesia, Seringai menjadi band opening dalam konser tersebut. Aransemen musik lagu di album ini tidak terasa berbeda dengan album sebelumnya.

Baca Juga : Mengenal Sid Vicious Pencipta Pogo ala Punk Rock

Karakter Seringai yang memang sengaja mempopulerkan pertunjukan dengan unsure alkohol, bernyanyi bersama, slamdancing dan melakukan aksi stage diving sebagaimana band-band rock pada umumnya kala menggelar konser. Di balik totalitasnya Seringai di atas panggung ada upaya yang berdarah-darah untuk mengeksekusi penampilan agar total dan maksimal. Perjalanan mereka diabadikan dalam lagu Adrenalin Merusuh.

Kritik Sosial Melalui Lagu
Konten-konten yang diproduksi Seringai sarat akan kritik social dan politik juga menanggapi situasi yang terjadi beberapa tahun ke belakang.  Dikemas dengan alunan rock. Seperti dalam lagunya yang berjudul Disinformasi, mereka menyoroti maraknya pemberitaan hoax yang kian menyeruak dan meracuni otak masyarakat. Tertuang dalam penggalan baitnya,

Disinformasi menyebar cepat
Tak berakurasi yang berencana dan tidak tepat
Sajikan berita, fakta tanda tanya
Headline dan isi berbeda
Sebelum menyebar perlu mencari fakta
Membaca juga analisa

Ada tiga pihak sekaligus yang dikritisi oleh Seringai. Utamanya dalam lagu Disinformasi mulai dari penguasa, media, pembaca (masyarakat). Penguasa yang bias mengendalikan media lantaran punya otoritas, media sebab selain penguasa punya otoritas juga sebagai penanam saham yang haus dituruti kemaunya hingga idealism dan idelogi media dipertanyakan.

Baca Juga : [Resensi] Film The Look of Silence (Senyap)

Tidak hanyak mengomentari media, anjuran kepada pembaca juga digalakkan. Dengan menghadirkan kalimat “Sebelum menyebar perlu mencari fakta, membaca juga analisa.” Menyiratkan bahwa menjadi pembaca kritis sangat dibutuhkan di era digital macam sekarang. Komparasi, cek dan ricek sebelum menyebar informasi adalah hal yang mestinya diterapkan para pembaca, tidak menelannya mentah-mentah.  Like and share dengan diimbangi peristiwa yang utuh dalam artian membaca menganalisa dari berbagai sumber tak hanya darisatu.

Tak kalah penting adalah lagu Omong Kosong. Diawali dengan tepukan tangan dan ujaran berupa “Publik itu jangan terlalu banyak berprasangka di kampanye ini saya jelas menggunakan clean campaigne”. Dikemas dengan cara bercakap yang kemudian dibumbui teriakan “Omong Kosong”. Jelas sebuah sarkasme terhadap politisi yang sering mengumbar janji. Menggunakan narasi SARA untuk menggaet suara supaya menang dalam pemilihan.

Tak sekedar menyoroti politisi, Seringai juga berpendapat hidup sehat dari olahraga adalah bualan. Isu pelecehan atau kekerasan seksual yang kerap menimpa perempuan respons yang sering muncul dari masyarakat justru menyalahkan korban, rape culture yang sudah membudaya. Tanggapan berupa lingkaran sosial yang dominan laki-laki dari korban, waktu pulang yang dibilang terlalu malam dan menyalahkan cara berapakaian merupan cirri dari rape culture dan konstruk social sekaligus imperialism kultural yang sudah dibangun serta mengakar. Dari sana Seringai menandaskan dengan “Omong Kosong” untuk tanggapan yang seperit itu, menyalahkan korban bukan hal yang tepat.

Enam lima adalah sebuah lagu untuk menolak lupa pada sejarah kelam bangsa berupa genosida. Traumatis tahunan yang dialami keluarga dari korban pembantaian tahun 1965 tidak bias ditampik begitu saja. Meskipun sejarah ditulis oleh mereka yang menang tapi imbasnya pada mereka yang merasakan. Terlepas dari genosida yang mengerikan itu optimistik ditaburkan dengan adanya bait di akhir lagu “Kebenaran sudah datang, kebenaran akan menang”.

Tindakan represitas yang sering dilancarkan terangkum dalam lagu Persetan. Simbol-simbol berupa derap langkah serdadu, meraungkan sirine tanpa perlu dijelaskan sudah tahu pembicaraan mengarah ke mana. Kobaran semangat perjuangan yang digaungkan melalui lagu ini.

Menyambut revolusi industri 4.0 yang segalanya beralihke era digital band yang personelnya terdiri dari para lelaki ini mengingatkan pada judul “A.I” di mana evolusi manusia terasa sangat lamban dibanding teknologi yang terus berkembang. Eksistensi manusia dipertanyakan lagi. Tapi kemudian disemangati dengan lagu ‘Bebal’ untuk tidak begitu saja menyerah pada hidup. Pribadi yang terlampau sering mengeluh adalah pribadi yang tidak berguna.

Menanam Nilai Toleransi
Nuansa ingin menggalakkan toleransi sangat kental sekali, tercermin dalam lagu Sekarang atau Nanti. Berdasarkan prasangka yang tanpa klarifikasi dan konfirmasi akan menimbulkan stigma negatif dan ujaran kebencian. Itu hal kecil yang memicu konflik ras, agama dan antargolongan, ketakutan-ketakutan yang mengacaukan pikiran, dogma yang tidak memanusiakan tabiat-tabiat keji yang mesti dilawan. Sekarang atau nanti kebencian harus mati.

Konflik semacam itu justru penyebab dari separatisme. Dasar Negara dan asas negeri ini sudah sangat demokratis dan toleran. Pancasila dengan Bhineka Tunggal Ikanya. Untuk menghindari intoleransi semakin meluas mari bersama,

taklukan ketakutan yang mereka ternakkan, berbeda agama atau kepercayaan.
Gagasan harmoni sesederhana ini: saling toleransi, saling hargai.
Fasisme tak ada tempat di sini, rasisme tak ada tempat di sini’.

Selain peliknya konflik berbasis SARA di negeri kita, debat wacana yang tak kunjung usai juga mesti digarisbawahi. Seringkali kita disibukkan dengan hal yang kontra produktif, berdebat misalnya. Mengumpulkan berbagai macam data hanya untuk berargumen dan saling menyanggah. Padahal berbeda pendapat adalah biasa, yang mesti ditakutkan justru apabila pikiran seragam sebab ada doktrin-doktrin yang sengaja diselipkan dan dimasukkan ke dalam kepala.

Mendengar pandangan bernuansa, menyisih renggangan dan tenggang rasa
Terima perbedaan, hidup semestinya tenteram dan tanpa dendam
Berputar tanpa arah, seteru
Memanas tanpa makna binasa (Seteru Membinasa)

Mari berkometar