Judul : The Look of Silence (Senyap)
SutradaraJoshua Oppenheimer
Produser: Signe Byrge Sørensen
Produksi: Final Cut for Real
Durasi: 138 menit


Melalui The Look of Silence aka Senyap ini, ‘Joshua Oppenheimer’ kembali memfilmkan lagi para pelaku genosida tahun 1965 di Indonesia. Kali ini kita akan mengikuti kehidupan ‘Adi Rukun’ seorang tukang kacamata keliling itu adalah adik dari Ramli, yang merupakan salah satu korban pembantaian 1965-1966 di salah satu desa perkebunan terpencil di Sumatera Utara.

Baca Juga : [Resensi] Film Into The Wild

Lahir pasca pembantaian 1965-1966, Adi tumbuh dalam keluarga yang secara resmi dinyatakan “tidak bersih lingkungan” karena kakaknya, Ramli, yang dianggap simpatisan PKI. Bersama Adi, Joshua Oppenheimer terhenyak untuk mendokumentasikan keluarga penyintas itu dan mendapatkan pengetahuan mengenai bagaimana anaknya di bunuh dan siapa yang membunuhnya. Satu persatu keingin tahuan Adi akan fakta pembelokan sejarah terkuak, ‘Adi Rukun’ bertekat untuk memecah belenggu kesenyapan dan ketakutan yang menyelimuti kehidupan para korban, dan kemudian mendatangi para pembunuh kakaknya satu persatu.

Baca Juga : [Resensi] Film The Secret Life of Walter Mitty

Film Senyap, begitupun juga film sebelumnya, Jagal, tidak hanya sekadar dokumenter biasa saja, namun ini sebuah esai pengingat bahwa kebenaran masih belum tuntas diungkapkan, keadilan masih belum lagi ditegakkan, permintaan maafpun belum lagi dikatakan, korban belum direhabilitasi—apalagi mendapatkan rekompensasi atas segala yang dirampas dari mereka. Sesudah itu semua, sejarah yang diajarkan di sekolah masih bungkam mengenai kekejaman dan kejahatan terhadap kemanusiaan terhadap jutaan orang.

Semakin unik apa yang di presentasikan oleh Joshua disini, apabila keunikan ‘Jagal’ menyoroti kesaksian seorang algojo melalui media film. Senyap akan menyoroti kesaksian para algojo melalui tukang kacamata. Ya ‘Senyap’ membiusmu kenarasi yang lebih kelam, bahkan lebih blak-blakan lebih berani dan lebih brutal. Sepanjang film suara jangkrik akan menemani kita di kesenyapan penuh teror 96 menit, dengan tone warna sephia yang menghantui.

Baca Juga : [Resensi] Buku : konspirasi alam semesta

Layaknya sebuah film horror ketegangan akan berlangsung ketika Adi bertemu dengan orang-orang yang membunuh kakaknya. Sebagian penontonpun ikut terlarut dalam emosi, merasakan apa yang dialami Adi ketika para pembunuh – pembunuh saudaranya itu mengatakan dengan bangga akan perbuatannya, sebagian marah dan tidak ingin diungkit, sebagian bergaya sambil berfoto ria di tempat kejadian dulu. Ya Joshua mempertontonkan momen-momen emosional nan gila yang tidak kamu bayangkan, kata-kata apa saja yang terlontar dari para pembunuh ini, dan bagaimana reaksi mereka ketika Adi menyinggung soal pembunuhan kakaknya.

Sebagai hasilnya ‘Senyap’ bukan dokumenter biasa, ia adalah puisi dan terror yang menusuk hati kita sebagai penonton. Sebuah pengingat dan usaha keras bahwa kita harus berhenti, mengakui kehidupan yang telah dihancurkan, dan memaksa diri untuk mendengarkan kesenyapan yang menyusulnya. Adi yang selayaknya sebagai tukang kacamata keliling ini membantu kita melihat lebih jelas dalam kesenyapan, membantu mengobati sebuah miopia masal yang sedang kita alami di sekeliling kita, Sedangkan Joshua adalah perangkai dan penulis surat kesenyapan ini.

Mari berkometar