Didaktik – Ada sebuah ruangan yang sekiranya panjang lebar tak bisa terdeteksi karena aku sendiri bukanlah seorang arsitektur,didalamnya ditemani lampu beserta kincir angin yang menyerupai kipas,disudut terdapat sebuah proyektor canggih yang menampakan tiap pasang bola mata yang melihatnya,meja kursi dan sebuah papan tulis berdinding putih bersinar yang selalu terpampang didepan kalangan mahasiswa.

Disudut ruangan inilah mereka menghabiskan waktu pagi siang sore bahkan ada yang hingga larut malam, mereka duduk nyaman dengan rundukan mata kusam hanya untuk merebut legalitas sarjana.

Baca Juga : Ormas Mahasiswa Bingung Proker Hancur

Tapi ada sebuah tragisitas yang dialami mahasiswa saat ini,ada sebagian menyibukkan diri dengan gelar aktivis dan tak sedikitpun turun aksi ke jalan demi keadilan ibu pertiwi. Jeritan aksi,jeritan tangis,jeritan duka,jeritan kobaran semangat tak pernah lelah mereka lawan bahkan banyak deraian nyawa yang hilang.

Dimanakah letak keadilan negeri ini? Ketika mahasiswa kritis menyampaikan aspirasi rakyat namun kalangan atas tak memperdulikan itu , berangkat dari sebuah keprihatinan yang kian meledak mau tidak mau mahasiswa harus kembali pada alurnya.

Memindah alihkan generasi disetiap generasi,memperbaharui loyalitas bangsa dan agen perubahan adalah organ moralitas.

Serta apa yang membuat kalangan tak bertanggung jawab yang melontarkan sebuah kalimat “Pemuda pemudi selayaknya duduk manis sembari menuntut ilmu dan berpendidikan tinggi” lalu pantaskah lontaran itu terus diucapkan?kalo bukan pemuda pemudi atau bisa disebut mahasiswa siapa lagi yang akan membela negeri ini?sedangkan kampus tak selalu dituntut menghasilkan mahasiswa cerdas dan berkarakter tapi sejatinya kampus dituntut menjadi wadah perubahan mahasiswa untuk mengaksikan tindakan positive demi negeri,tak hanya menganspirasi sebagai mahasiswa milenial yang disibukkan dengan gadget,hedonisme,emosionalisme,nilai IPK.

Namun disertakan bagaimana tiap mahasiswa memiliki kesadaran tinggi demi keadilan generasi ke generasi

Karena yang bangsa butuhkan saat ini maha pemuda pemudi berawal dari biasa namun tak enggan untuk bekerja keras dan melakukan kerja-kerja besar serta siap siaga untuk menjadi calon pemimpin di masa yang akan datang.

*”Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya.” Pramoedya Ananta Toer, House of Glass*

Mari berkometar