Didaktik – Guru sebutan dari sesosok orang yang mengajar dan membimbing siswa di sekolah (21/07/2020). Sebuah tindakan mulia dari seseorang guru tak bisa dinilai jasa dan perjuangan nya, hingga tercipta generasi emas hingga pemimpin Negara. Akan tetapi jika mengaca dari tahun Orde Lama hingga Orde Baru, Era modernasi sekarang ini. Nasib guru belum juga mendapatkan yang sepantas nya.

Berawal dari tangis, canda, bahkan sedih sekalipun guru senantiasa mengawal berkembang nya siswa. Bekerja lebih dari 4jam hingga 6jam dalam sekolahan, akan tetapi nasib tak berpihak sama sekali.

Mengutip detik.com, Banyak guru honorer yang belum mendapat upah layak bahkan masih jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Seperti yang dialami guru honorer di Purworejo bernama Yan Budi Nugroho, pekerjaannya dari mengajar hanya diupah Rp 200.000 per bulan.

“Dari awal saya masuk di dunia pendidikan saya mendapat upah Rp 50.000 terus naik Rp 100.000, terus naik Rp 150.000, terus sampai Rp 200.000 sekarang sejak 2018,” kata Yan, Selasa (9/6/2020) detik.com.

Upah tersebut lebih kecil dibanding menjadi Asisten Rumah Tangga (ART/PRT). Berdasarkan catatan detikcom, untuk menggunakan jasa ART harus merogoh kocek mulai dari Rp 1,5 juta sampai Rp 2 juta per bulan tergantung pengalaman yang dimiliki.

Sebuah timbal balik yang tak sepadan jika dibandingkan dengan nilai kemanusiaan yang ditorehkan oleh sesosok guru kepada Masyarakat dan Negara. Dan yang paling lucu ketika banyak orang mengira gaji guru itu besar melebihi nilai UMR (Upah Minimum Regional) sangat miris bukan ? ketidak tahuan mansyarakat ini mengakibatkan kesalahan berfikir yang cukup lama, sehingga jarang sekali yang mengetahui gaji guru terkecuali guru itu sendiri.

Bahkan yang mengejutkan dari kemendikbud Muhajir Effendi, mengutip detik.com “Saya agak yakin, bahwa orang yang pertama masuk surga itu adalah guru. Kalau sekarang gajinya sedikit, apalagi guru honorer, syukuri dulu nikmati yang ada, nanti masuk surga,” imbuhnya yang disambut tepuk tangan hadirin.

Menurut Muhadjir, apa yang diajarkan oleh guru memiliki dampak yang luar biasa. Muhadjir kembali menyinggung tanggung jawab sosial jika guru salah dalam mengajar.

“Kalau nggak benar, menghasilkan dosa, dosanya turun temurun, pertama masuk neraka juga guru. Kalau komitmen menjaga tanggung jawab sosialnya, masuk surga. Kalau guru main hp, siswanya ditinggal, itu masuk neraka,” ucapnya.

Secara realistis saja, konsekuensi kerja adalah upah, karena dengan upah manusia bisa melangsungkan hidup dengan ketercukupan biaya. Maka sudah jelas bahwa gaji menjadi pokok utama dalam pekerjaan, terutama guru yang mayoritas memiliki gelar sarjana ditempuh dengan masa 4 tahun perkuliahan.

Mari berkometar