#Kilas Balik Sejarah Singkat Wayang Orang

Didaktik – Apa yang terlintas di benak teman – teman semua jika membaca atau mendengar frasa ’wayang orang?’ drama? Mahabharata? Ramayana? Dalang? Sinden? Jawaban tersebut benar semua.

Wayang orang adalah wayang yang diperankan oleh manusia. Dengan kata lain, tokoh – tokoh dalam pewayangan, baik dari Mahabharata maupun Ramayana, dihidupkan dan diperankan oleh para seniman wayang orang lengkap dengan sinden dan dalangnya. Hanya saja di sini, dalang tidak memperagakan dialognya dan hanya bertugas sebagai narator, sedangkan dialognya dibawakan langsung oleh para pemainnya.

Pertunjukan wayang orang mulai diadakan sejak pemerintahan Raja Pakubuwono X. Hal ini kemudian juga ditandai dengan lahirnya Wayang Orang Sriwedari di Solo pada tahun 1910.

Wayang orang mencapai puncak kejayaannya di medio 1960-1970 an. Para pemain wayang orang di Solo, misalnya, mendapat pendapatan yang lebih dari cukup untuk mendorong roda perekonomiannya. Memasuki masa keemasannya, pada masa dua keraton yang ada di Solo, Keraton Solo dan Kadipaten Mangkunegaran, wayang orang juga tumbuh menjadi primadona di kalangan masyarakat luas.

Seiring dengan berjalannya waktu, wayang orang lalu tergerus zaman. Para pemainnya pun banyak yang sudah uzur dan pensiun, minat masyarakat juga ikut menurun. Hal ini bukan hanya terjadi di Solo yang notabene adalah ‘rumah’ bagi wayang orang namun juga terjadi di Semarang dengan grup Wayang Orang Ngesti Pandawa nya dan Jakarta dengan Wayang Orang Bharata nya. Keadaan wayang orang yang semakin memprihatinkan, nampaknya menggugah beberapa pihak untuk membangkitkan kembali semangat pertunjukan wayang orang. Pemain wayang orang banyak yang diangkat menjadi PNS. Beberapa modifikasi dan pembaharuan juga dilakukan.

Cerita dimodifikasi sedemikian rupa meski masih berpatokan pada cerita Mahabharata dan Ramayana. Cara penyajiannya pun dibuat kreatif. Begitu juga dengan ceritanya.

Tiap – tiap kelompok wayang orang di Indonesia memiliki ciri khas sendiri – sendiri. Wayang Orang Sriwedari, misalnya, mereka memiliki beberapa lakon dan tokoh yang tidak ditemui di grup wayang orang lainnya. Dengan kata lain, lakon dan tokoh tersebut hanya bisa ditemukan di grup Wayang Orang Sriwedari saja.

#Wayang Orang untuk Kawula Muda

Penampilan Wayang Orang | (foto/solo)

Seiring dengan derasnya pengaruh budaya barat dan globaliasasi, lalu bagaimanakah sesungguhnya keberadaan wayang orang di kalangan anak muda? Banyak yang menyangsikan eksistensi wayang orang terutama di kalangan generasi muda. Namun ternyata wayang orang masih mampu bertahan. Paling tidak itu yang terlihat di beberapa grup wayang orang yang ada di Indonesia. Misalnya Wayang Orang Sriwedari.

Di grup wayang orang ini, yang bekerja baik di depan maupun di belakang layar kebanyakan adalah anak – anak muda yang berstatus sebagai ASN Dinas Kebudayaan Kota Surakarta. Mereka terlibat dalam produksi, mulai dari penyutradaaran, tata panggung, tata laku, hingga tentu saja para pemainnya sendiri. Selain itu, promosi juga gencar dilakukan melalui sosial media, seperti Instagram dan YouTube yang sering mengupdate jadwal – jadwal pertunjukan.

Usaha ini nampaknya sedikit banyak telah membuahkan hasil. Terlihat dari animo masyarakat yang datang menyaksikan baik secara langsung di gedung wayang orang maupun lewat kanal yang tersedia.

Baca Juga : Lika-liku Kurikulum Pendidikan

Bagi yang tidak mengerti bahasa Jawa yang digunakan di wayang orang, jangan khawatir, ada beberapa modifikasi pada wayang orang di mana wayang orang dipentaskan menggunakan bahasa Indonesia dan dalam sentuhan drama modern, misalnya seperti apa yang dipertunjukkan oleh yayasan Swargaloka yang aktif mengadakan pagelaran drayang atau drama wayang. Drayang Swargaloka telah dimodifikasi sedemikian rupa dari wayang orang.

Bukan hanya bahasanya yang menggunakan bahasa Indonesia, gerak laku dan tata artistiknya juga lebih modern dan berbeda dengan pertunjukan wayang orang pada umumnya. Swargaloka juga sering mengadakan roadshow ke berbagai daerah, misalnya Jogjakarta dan Surabaya. Selain itu juga ada Laskar Indonesia Pusaka yang berpusat di Jakarta yang juga tiap tahun rutin mementaskan wayang orang modern mereka.

Yayasan yang berada satu naungan dengan Jaya Suprana School of Arts ini biasanya juga mengusung artis ibukota untuk menarik kawula muda menyaksikan pentasnya yang biasanya dihelat di Taman Ismail Marzuki, lengkap dengan tata panggung yang modern dan sangat memanjakan mata.

#Lalu

Sebelum Acara Pertunjukan di Mulai | (foto/solo)

apa sebenarnya urgensi anak muda untuk menyaksikan wayang orang? Sebagaimana yang kita ketahui bahwa prinsip dari wayang bukan hanya sekadar tontonan, namun juga sebagai tuntunan. Banyak moral value yang bisa diambil dari wayang dan masih relevan dengan kehidupan anak muda hingga sekarang. Misal, lakon Dewa Ruci yang bercerita dengan Bratasena atau putra nomor dua Pandawa yang mengembara untuk mencari sumber air Prawita Sari.

Di mana setelah mencari mata air tersebut jauh ke hutan dan gua yang dijaga raksasa, ia akhirnya menyelam ke dasar samudra dan bertemu dengan Dewa Ruci yang mengajarkannya bahwa sesungguhnya air Prawita Sari itu adalah air yang bersumber dari diri manusia itu sendiri, bukan seperti yang dituturkan gurunya, Begawan Dorna, yakni dari lautan ataupun gua.

Lakon Dewa Ruci juga bisa dikaitkan dengan kehidupan manusia di mana ada hitam, ada putih, ada nafsu, ada akal, dan ada tempat berpasrah, yakni Tuhan Yang Maha Esa, juga tentang manunggalnya kawula dengan Gusti Kang Akarya Jagat atau Tuhan Yang Maha Esa itu sendiri.

#Jika dikaitkan dengan kehidupan zaman sekarang

Diluar Panggung Acara | (foto/solo)

Hal ini bisa diibaratkan anak muda yang menuntut ilmu di mana ilmu yang dicarinya tersebut sebenarnya berasal dari keyakinan dirinya sendiri untuk apa ilmu tersebut, apakah demi kebaikan sesama atau hanya demi nafsu semu semata.

Selain itu, lakon ini juga mengajarkan untuk pantang menyerah dalam menggapai dan mendapatkan sesuatu. Tidak ada yang tidak mungkin asal disertai dengan niat, keteguhan hati, dan kerja keras. Dewa Ruci adalah salah satu dari sekian lakon populer yang juga sering dipentaskan di panggung wayang orang. Dengan ceritanya yang tetap memiliki relevansi kuat dengan kehidupan anak muda, sudah seharusnya lah anak muda semakin melirik wayang orang sebagai salah satu alternatif hiburannya.

#Pengaplikasian Pertunjukan Wayang Orang dalam Pelajaran/Mata Kuliah

Sesi Penampilan Wayang Orang | (foto/solo)

Salah satu upaya melestarikan wayang orang adalah dengan mengaplikasikannya dalam mata kuliah atau pelajaran di sekolah. Beberapa mata pelajaran atau mata kuliah yang bisa disisipi misalnya pelajaran Bahasa Jawa, Bahasa Indonesia, dan Bahasa Inggris, di mana siswa dan mahasiswa bisa ditugaskan untuk membuat drama wayang orang. Bisa dengan modifikasi dan kreatifitas masing – masing.

Selain mengusung misi memperkenalkan wayang orang di kalangan siswa dan mahasiswa, hal ini juga bisa bertujuan sebagai komponen assessment bagi siswa dan mahasiswa misalnya dalam skill speaking atau berbicara dan listening atau mendengarkan dan menyimak.

Pengajar terkait harus bisa menjelaskan dulu tentang wayang orang atau latar belakang cerita terkait, sehingga siswa atau mahasiswa yang bukan berasal dari Jawa atau belum pernah mengetahui wayang sebelumnya bisa memiliki sedikit gambaran tentang wayang orang. Jika hal ini bisa diimplementasikan dalam lingkup kelas, bukan tidak mungkin semangat cinta akan wayang orang akan semakin tergugah.

Dan bahkan jika pertunjukan level kelas bisa sukses, pertunjukan serupa bisa dihelat di tingkat universitas dengan menjalin kerja sama dari unit lain yang ada di universitas terkait. Dengan keistimewaannya di atas dan relevansinya dengan kehidupan sekarang, diharapkan wayang orang bisa mempertahankan esksitensinya meski dalam gempuran budaya modern sekalipun. So, bagi kalian para kawula muda, tunggu apa lagi? Nonton wayang orang yuk!

2 KOMENTAR

Mari berkometar