Didaktik – Seseorang pria dengan julukan nya Bapak Koperasi juga sebagai Wakil Presiden pertama di Indonesia ini. Beliau ialah Mohammad Hatta, yang kerap di panggil Bung Hatta. Sebagai pejuang Proklamasi Kemerdekaan, bung Hatta salah satunya. Beliau lahir di Bukittinggi, Sumatra Barat pada 12 Agustus 1902. Bung Hatta yang berperan tinggi dalam memperjuangkan Negeri, selain Prolamator beliau yang memainkan peran  sentral pada saat 17 Agustus 1945 ini dikenal juga mendorong kemajuan koperasi di Insonesia sehingga Bung Hatta sebagai Bapak Koperasi Indonesia.

#Bapak Koperasi

Dengan rasa kesadaran yang tinggi Bung Hatta kepada rakyat dan ekonomi Indonesia, Beliau mendorong gerakan ekonomi kerakyatan melalui koperasi. Menurut Beliau, tujuan negara yaitu memakmurkan rakyat dengan berlandaskan atas asas kekeluargaan dan bentuk perekonomian yang paling cocok bagi Indonesia adalah ‘usaha bersama’ secara kekeluargaan.

#Sekilas Sejarah Koperasi

Kala itu pada 12 Juli 1951, Bung Hatta Mengutarakan pidato di sebuah radio dalam memperingati Hari Koperasi di Indonesia. Gagasannya mengenai koperasi terdapat dalam bukunya Membangun Koperasi dan Koperasi Membangun (1971). Atas kontribusi beliau terhadap perekonomian Indonesia, Bung Hatta diangkat sebagai Bapak Koperasi Indonesia pada tahun 1953 saat kongres II di Bandung. 

Pengertian koperasi sendiri menurut UU RI  Pasal 1 No. 25 Tahun 1992 tentang perkoperasian, definisi koperasi adalah badan usaha yang beranggotakan orang seorang atau badan hukum koperasi yang melandaskan kegiatannya berdasarkan prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan atas asas kekeluargaan.

Mengutip dari tirto.id, keberadaan koperasi di Indonesia diawali tahun 1886 oleh R. Aria Wiraatmadja dan Patih Purwokerto yang mendirikan Hulp en Spaarbank. Lembaga yang menolong kaum priyayi dari cengkraman lintah darat pada masa itu. Lembaga ini mendapat dukungan dan menjadi bagian dari pelaksanaan politik etis. Lembaga ini menggunakan model koperasi kredit Raiffeisen.

Sepak Terjang koperasi dimulai pada tahun 1908. Gerakan yang dimotori oleh Boedi Oetomo. Gerakan ini ditandai dengan pendirian koperasi rumah tangga. Selanjutnya pada tahun 1913, Syarikat Dagang Islam membangkitkan kehidupan berkoperasi di kalangan pedagang dan pengusaha tekstil bumiputra. Pada tahun 1927, kelompok Studie Club (Persatuan Bangsa Indonesia) membangkitkan gerakan koperasi sebagai wahana pendidikan ekonomi rakyat dan nasionalisme kebangsaan.

Koperasi di Indonesia pertama kali menggelar Kongres Gerakan Koperasi di Tasikmalaya, padatanggal 12 Juli 1947, yang dihadiri oleh 500 utusan dari Jawa, Sumatera, Kalimantan dan Sulawesi. Setelah Indonesia merdeka, gerakan koperasi yang terpencar-pencar itu akhirnya berhasil dipersatukan.

#Tujuan Koperasi

Berdasarkan UU yang mengatur koperasi, pada pasal 3 dinyatakan bahwa koperasi memiliki tujuan untuk mensejahterakan anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya serta ikut membangun tatanan perekonomian nasional dalam rangka mewujudkan masyarakat yang maju, adil, dan makmur berdasarkan Pancasila dan UUD 1945.

Dengan dasar tersebut maka koperasi bertujuan memajukan kesejahteraan anggota dan masyarakat, serta membangun ekonomi nasional. Dengan adanya koperasi, kebutuhan anggotanya dapat diperoleh dengan mudah sehingga membuat kesejahteraan anggota meningkat yang secara langsung dapat memajukan kesejahteraan masyarakat dan perekonomian Indonesia.

#Membangun Koperasi & Koperasi Membangun (1971)

Pada tahun 1971, Hatta merilis buku tulisannya yang berjudul ‘Membangun Koperasi & Koperasi Membangun’, dalam bukunya Hatta mengkategorikan social capital ke dalam 7 nilai semangat koperasi.

  1. Kebenaran untuk menggerakan kepercayaan.
  2. Keadilan dalam usaha bersama.
  3. Kebaikan dan kejujuran mencapai perbaikan.
  4. Tanggung jawab dalam individualitas dan solidaritas.
  5. Paham yang sehat, cerdas, dan tegas.
  6. Kemauan menolong diri sendiri dan menggerakan keswasembadaan serta otoaktiva.
  7. Kesetiaan dalam kekeluargaan.

#Prinsip Koperasi Hatta

  1. Keanggotaan sukarela dan terbuka.
  2. Pengendalian oleh anggota secara demokratis.
  3. Partisipasi ekonomis anggota.
  4. Otonomi kebebasan.
  5. Pendidikan.
  6. Pelatihan dan informasi.
  7. Kerjasama antar operasi serta kepedulian terhadap komunitas.

Mari berkometar