Didaktik – Indonesia merupakan negara demokratis yang setiap 5 tahun sekali melakukan pemilihan Presiden dan wakil Preseiden. Dengan bergantinya periode kepemimpin secara otomatis ada pembaharuan Kabinet. Sehingga terdapat penyempurnaan sistem dan kebijakan yang baru. Namun, dengan adanya hal tersebut tidak semua masyarakat mampu menerima dan merespon secara positif. Salah satunya kurikulum pendidikan di Indonesia yang terus mengalami perubahan dalam beberapa pergantian periode pemerintahan. Jika dipandang dari perkembangan zaman, perubahan tersebut memberikan hal positif apabila sejalan dengan kemajuan dan perkembangan pendidikan sesuai dengan eranya. Namun, disisi lain tidak menutup kemungkinan adanya kebingungan bagi peserta didik maupun pendidik karena perlunya penyesuaian kembali. Terlepas dari baik buruknya kurikulum yang berubah-ubah, perlu diketahui bahwa kurikulum adalah salah satu komponen yang perlu diperhatikan untuk mutu pendidikan yang lebih baik.


Menurut Undang-undang pasal 1 ayat 19, kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai tujuan, isi, dan bahan pengajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan pembelajaran untuk mencapai tujuan pendidikan tertentu. Dari pengertian tersebut, dapat diketahui bahwa jika tidak ada kurikulum, pendidikan tidak berjalan dengan sempurna. Sedangkan, dengan adanya kurikulum, pendidikan dapat terarah dengan baik. Sejak Indonesia merdeka sampai sekarang kurikulum pendidikan mengalami perubahan. Mulai dari Rencana Pelajaran 1947 ( Kurikulum 1947) yang dilasanakan pada tahun 1950, Rencana Pelajaran Terurai 1952 (Kurikulum 1952), Rencana Pendidikan 1964 (Kurikulum 1964), Kurikulum 1968, Kurikulum 1975, Kurikulum 1984, Kurikulum 1994 dan Suplemen Kurikulum 1999, Kurikulum 2004 (Kurikulum Berbasis Kompetensi), Kurikulum 2006 (Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan), Kurikulum 2013. Berubahnya kurikulum tersebut sejalan dengan  tujuan pemerintah untuk menciptakan pendidikan yang berkualitas.


Berubahnya kurikulum pendidikan di sebabkan oleh beberapa faktor yang meliputi, arus globalisasi dan perkembangan teknologi dengan menyesuaikan perkembangan masa. Hilangnya moral juga dapat mempengaruhi berubahnya kurikulum di Indonesia. Sehingga rasa toleransi dalam diri peserta didik mulai hilang. Maka, kurikulum pendidikan mengalami perubahan dalam beberapa periode. Kurikulum mengalami perubahan dengan tujuan tertanam sikap toleransi dalam diri peserta didik. Disisi lain, perkembangan teknologi membuat kurikulum pendidikan di Indonesia berjalan dengan sempurna. Namun, peserta didik menyalahgunakannya. Seperti, digunakan untuk mencontek. Kurikulum yang berubah membuat berbagai presepsi bermunculan. Salah satunya, masyarakat berikir berubahnya kurikulum memberatkan peserta didik. Namun, tujuan pemerintah merubah kurikulum untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi dalam peserta didik. Memang dengan kurikulum sekarang waktu istirahat dan berkumpul bersama keluargaa berkurang. Namun, perkembangan masa yang luar biasa membuat kurikulum diubah dan perubahan kurikulum akan berdampak pada kualitas kurikulum pendidikan di Indonesia.


Kurikulum di Indonesia kerap mengalami perubahan. Perubahan ini dikarenakan perubahan masa baik dari segi Politik, Sosial Budaya, Ekonomi dan IPTEK. Dengan tujuan menyempurnakan kurikulum sebelumnya. Rentjana Pelajaran 1947, kurikulum pertama di Indonesia. Di mana kurikulum ini terjadi pada masa penjajahan Belanda. Tujuan kurikulum ini dilaksanakan, agar tertanam kesadaran bernegara dan bermasyarakat dengan kejadian sehari-hari. Pada masa ini, materi pembelajarannya meliputi Bahasa Indonesia, Bahasa Daerah, Berhitung, Ilmu Alam, Ilmu Hayat dan Ilmu Bumi Sejarah. Selain itu terdapat pembelajaran menyanyi, menggambar, pekerjaan tangan dan olahraga. Rentjana Pelajaran Terurai, kurikulum ini penyempurnaan kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini mengarah pada pendidikan nasional. Selain itu setiap mata pelajaran lebih merinci. Maka, kurikulum ini dinamakan Rencana Pelajaran Terurai 1952. Kurikulum ini lebih menfokuskan pada pengembangan Pancawardhana, yaitu daya cipta, rasa karsa, karya dan moral. Mata pelajarannya di kelompokkan menjadi lima bidang studi.


Pada masa ini, masyarakat membentuk kelas keterampilan. Kurikulum 1964, ciri pada kurikulum ini yaitu penguasaan ilmu pengetahuan yang dipusatkan pada pengembangan moral, emosional, dan keterampilan. Kurikulum ini, bermaksud untuk menjadikan manusia yang demokratis dan sosialis. Mata pelajarannya ditentukan oleh ideologi dan politik. Kurikulum 1968, pada kurikulum ini, memiliki tujuan yang sama dengan kurikulum sebelumnya yaitu membentuk manusia Pancasila sejati, kuat, sehat jasmani, mempertinggi kecerdasan dan keterampilan. Pada kurikulum ini, mata pelajarannya mengalami perubahan menjadi tiga kelompok besar dan sembilan mata pelajaran.


Kurikulum 1975, kurikulum ini merupakan kurikulum pertama yang mengembangkan proses dan prosedur berdasarkan teori pengembangan kurikulum. Pada kurikulum ini, peserta harus aktif mencari, menemukan, dan mempresentasikan hasil belajarnya. Sedangkan Guru memberikan fasilitasnya.

Kurikulum 1984, pada kurikulum ini, metode pembelajarannya berupa mendengarkan, berdiskusi dan sebagainya. Selain itu peserta didik diberikan kesempatan untuk aktif secara intelektual dan emosional. Pada kurikulum ini, terdapat enam belas mata pelajaran yang dibagi menjadi dua program. Selain itu, pada kurikulum ini guru dan peserta didik lebih mudah melaksanakan pendidikan dengan memberikan pendapat dalam kegiatan belajar. Namun, guru dan peserta didik bergantung pada teks sehingga sumber belajar sangat terbatas.

Kurikulum 1994, pada kurikulum ini, mata pelajaran dibagi menjadi tiga program jurusan yang memiliki empat program pilihan. Sistem kurikulum ini, sama seperti kurikulum sebelumnya. Kurikulum ini lebih meningkatkan mutu kurikulum yang tetap sama. Kurikulum 2004 (KBK), kurikulum ini dikenal dengan kurikulum berbasis kompetensi yang berfokus pada pengembangan kemampuan. Kurikulum ini, bertujuan agar kompetensi peserta didik tercapai dengan baik. Kurikulum 2006 (KTSP), kurikulum ini tidak jauh berbeda dengan kurikulum 2004 (KBK). Perbedaannya terdapat pada guru yang dapat menyesuaikan pembelajaran dengan kondisi sekolah berada. Agar potensi kurikulum pendidikan di daerah dapat meningkat dan tidak terjadi kesenjangan dalam kurikulum pendidikan di Indonesia. Kurikulum 2013, kurikulum ini berlaku selama 6 tahun. kurikulum ini dilaksanakan untuk mengganti kurikulum 2006 (KTSP). Kurikulum ini memiliki empat aspek penilaian dan kurikulum ini bersifat sementara.


Akhir-akhir ini ramai perbincangan tentang ujian nasional dihapuskan atau akan adanya kurikulum baru. Terlepas dari itu semua sadarkah bahwa setiap rencana butuh aksi untuk bisa mengetahui hasilnya. Kurikulum boleh berubah, namun haruskah sarana dan fasilitas pendidikan terlupakan. Bagaimanpun kurikulumnya jika tak disertai sarana dan fasilitas yang mumpuni bagaimana seorang siswa akan mengembangkan kreatifitasnya. Bayangkan saat seorang siswa yang hidup dari keluarga pas-pasan kemudian dipaksa untuk membeli buku pelajaran sedangkan untuk makan saja mereka harus berkerja keras haruskah mereka berhenti sekolah karena tak bisa mendapatkan buku.