Didaktik – Pertama-tama saya ucapkan sugeng dalu, sugeng rahayu sedoyo, kali ini saya mencoba mengulas sedikit banyak berbagi tulisan mengenai khazanah tembakau.

Setelah proses perjalanan saya menjadi saat sekarang ini, saya seringkali menemukan idiom “apa sih gak penting tahu”, mungkin kata tersebut juga sering terdengar bagi temen-temen, pada khusus kalangan pemuda atau pemudi. Tapi disini saya tertarik mencoba mengkajinya dan setelah saya temukan ternyata gak semua yang dilakukan seseorang yg dianggap tidak penting, ternyata itu penting!, misal dalam kebudayaan mengudud (merokok), mungkin ada yg beranggapan bahwa merokok itu tidak penting tapi bagi orang para perokok itu sangat penting sekali, dengan kandungan tembakau yang terdapat nikotin dengan ditemukannya penelitian bahwa merokok itu bisa mampu menenangkan, dan mampu meningkatkan kinerja otak dan memorial dalam otak.

Dan saya mencoba menelisik suatu budaya merokok atau melinting tembakau dalam kalangan masyarakat, salah satu diantaranya percaya ndak percaya sih kalau kita merokok tembakau atau bisa disebut dengan merokok lintingan akan timbul suatu komunikasi pada masyarakat, misal bertanya-tanya soal tembakau ini darimana ? bagaimana cara menyimpannya ? tembakau yg cocok pada hawa seperti ini itu apa ? dst. Dari budaya tersebut akan menguatkan kembali kebudayaan jawa yg bernama guyub rukun, sesrawung konco-konco, dsb.

Ketika ditanya apakah merokok ndak akan mengganggu kesehatanmu ? kalau menurut saya sih itu tergantung dirimu, karena dirimu lah yg tahu soal kapasitas kesehatanmu, kamu yang tahu kapan waktumu merokok dan kapan waktumu berhenti merokok, mungkin kalau merokok dengan porsi banyak juga gk baik, merokoklah secara proporsional nya. Karena sesuatu makanan atau minuman dan obat, yang baik tapi dilakukan tidak sesuai dengan kapasitas diri itu juga berbahaya hehe, misal meminum air putih se-galon juga gak baik bagi perut akan mengalami masalah perut dan saluran air kencing, bahkan memakan berlebihan juga akan membuat organ tubuh bekerja ekstra dan akan mengakibatkan gangguan terhadap organ-organ lainnya. Jadi dalam melakukan hal apapun lakukanlah dengan proporsional nya.

ketika saya explore secara linguistik, arti dalam mengudud ialah (men-tarik), udud (narik), dan dalam udud tersebut ada yg namanya tembakau itu ternyata berasal dari kata (Baqo’) atau (abadi), dan setelah terbakar muncul lah kebul (asap) atau (terkabul). Dalam hal ini bisa dimaknai bahwa kita mengudud (menarik) atau (berdoa) kepada yg sifatnya (keabadian) atau tuhan agar (mengkabulkan) hajat kita. Dari situ bisa kita temukan kebudayaan jika ada tradisi acara slametan di jawa pasti banyak mayoritas “Shohibul Bait” tidak akan lupa dengan menyuguhkan yang namanya udud ataupun rokok.

semoga konco-konco, dulur-dulur mampu melestarikan budaya yang ada ini dengan cara melinting rokok dan sesrawung bareng sehingga terbentuklah masyarakat yang interkoneksi,guyub rukun dsb.
Sugeng dalu, Sugeng rahayu, Sugeng lestari.