Didaktik – Kali ini ditambahnya jalur influencer sebagai jalur penerimaan mahasiswa baru mulai tahun 2020 di Universitas Muhammadiyah Malang, memunculkan respon beragam.

Mengingat seluruh civitas akademika Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) memiliki hak yang sama dalam menyampaikan kritik dan saran dalam perbaikan kampus kedepannya. berikut beberapa pendapat antara lain :

Pertama, Ide yang bagus namun perlu dipertimbangkan. Influencer seperti apa yang diterima karena ada yang kontennya positif, biasa atau sama sekali  tidak ada nilai positifnya. Jika yang diterima seperti inflencer yang suka berbagi ilmu, pengalaman, motivasi, hingga life skill, aku rasa itu hal yang baik tapi kalau cuma sekedar prank, uji nyali, hingga nuansa pornografi ya kita sama-sama tahu sendiri bagaimana dampaknya. Ungkap seorang, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Basa Arab dan Studi Islam tahun 2018.

Kedua, Aku sendiri enggak apa-apa tapi seharusnya syarakatnya ditekankan kepada isi konten yang harus bermanfaat. Jangan sampai konten semacam Lucinta Luna keterima. Kampus kita kan Muhammadiyah, menjujung tinggi nilai keislaman. Ungkap seorang, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Biologi tahun 2018.

Ketiga, Bagus sebenarnya jalur influencer ini. Sekarang kan kita memang harus mengikuti perkembangan zaman. Dengan adanya jalur inflencer. Bukti UMM tanggap merespon bakat di bidang itu. Tapi ya tetap seharusnya syaratnya tidak hanya beberapa jumlah subcribers atau followers yang didapat, harus konten-konten apa yang dimuat harus diperhatikan. Ungkap seorang, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris Tahun 2018.

Keempat, Menurut saya penerimaan mahasiswa UMM  lewat jalur influencer sangat tidak tepat, dikarenakan di zaman sekarang banyak sekali jasa-jasa penambah followers bahkan penambah subcribers dengan membayar beberapa puluh ribu. Jika UMM merupakan salah satu Universiyas terbaik, bagaimana bisa universitas ini mempunyai ide berpikir untuk menerima mahasiswa dengan cara seperti itu ? bukankah UMM ingin mencetak generasi bangsa yang berpendidikan dan bermoral ? Tapi mengapa jalur penerimaannya saja bisa diterima dengan hanya berdasarkan jumlah followers dan subcribers ? jika seperti itu orang akan berbondong untuk membeli jasa tersebut dan calon mahasiswa UMM ini akan lebih dikenal di indonesia dengan “ngehitsnya” ketimbang “kepandaiannya”. Ungkap seorang, Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris tahun 2017.