Didaktik – Beberapa hari yang lalu, Indonesia digemparkan dengan pelecehan seksual yang terjadi di Inggris. Pelecehan Seksual ini disebut dengan predator seksual di mana pelaku melalukan kontak seksual dengan orang lain secara metaforis. Pelaku melakukan berbagai hal untuk mendapatkan mangsanya. Seperti menjadi pendegar yang baik, simpatik, akrab layaknya saudara, perhatian, dan lain-lain. Hal ini sama yang dilakukan oleh Reynhard Sinaga. Ia merupakan warga negara indonesia (WNI). Orang terdekatnya tidak menyangka hal ini terjadi. Di lingkungan masyarakat ia dikenal sosok yang baik.

Sebelum berangkat ke Inggris, Rey menyelesaikan kuliah di salah satu universitas negeri di tempat tinggalnya. Selain itu ia merupakan lulusan SMA negeri ditempat tinggalnya. Masa SMA ia sosok siswa yang nilai akademinya berada di tengah rata-rata. Di masa SMP ia merupakan siswa yang tidak begitu menonjol seperti siswa pada umumnya.

Dikutip dari The Guardian, ia dibesarkan di keluarga Katolik. Dia datang ke Inggris pada 2007. Selama hampir sepuluh tahun kemudian sampai ditangkap pada 2 Juni 2017, Rey menjalani hidup dengan uang kiriman orang tua. Ayahnya disebut sebagai seorang banker. Selain membayar ribuan pound sterling untuk biaya kuliah, ayahnya menyewa flat di Montana House untuk tempat tinggal Rey.

Flat itu hanya berjarak beberapa pintu dari club Factory yang menjadi tempat favorit Rey untuk mencari mangsa. Rey diketahui jarang berbicara tentang keluarganya. Selama persidangan kasus itu, ibunya datang hanya sekali ketika pretrial hearing pertama. Tinggal di Manchester, Rey tak pernah menyembunyikan orientasi seksualnya sebagai gay. Dia biasa menghabiskan waktu di Canal Street dan Gay Village. Dia juga menggunakan sejumlah aplikasi kencan khusus gay di Grindr dan Hornet.

Kejahatan seksual yang begitu besar dalam sejarah inggris ia divonis hukuman seumur hidup. Ia menggunakan obat bius dalam melakukan aksinya. Di mana obat tersebut membuat korban tidak sadar dan korban tidak ingat dengan apa yang terjadi. Polisi mengamankan barang bukti seperti rekaman aksinya itu dengan ponsel setiap ia melakukan aksi bejatnya.

Hakim Suzanne Goddard QC mengatakan bahwa Reynhard “memangsa” para pemuda yang membutuhkan teman di klub malam. Kemudian dia akan menunggu targetnya meninggalkan klub malam dan sebelum mendekatinya mengajak mereka ke apartemennya di Montana House, Princess Street. Dia sering menawarkan korbannya untuk minum atau membantu menelepon taksi.

Targetnya kebanyakan adalah pria usia akhir belasan atau awal 20an yang tampak kesepian dan keluar dari klub malam di dekat apartemennya. Banyak di antara mereka yang keluar dalam kondisi setengah mabuk. Setelah korbannya terbujuk, dia kemudian akan memberikan minum yang sudah lebih dulu diberi obat bius. Lalu setelah korbannya tidak sadarkan diri, dia melancarkan serangan. Sementara itu, Crown Prosecution Service (CPS) yang merupakan badan publik utama untuk melakukan penuntutan pidana di Inggris dan Wales mengeluarkan pernyataan yang menyebut bahwa Reyhan adalah pemerkosa paling produktif dalam sejarah hukum Inggris. Sidang kali ini sebenarnya bukan sidang pertama yang dihadapi oleh Reynhard.

Namun ini adalah kali pertama identitasnya dirilis ke publik, setelah pembatasan pelaporan dicabut. Di empat persidangan terpisah, dia dinyatakan bersalah atas 136 tuduhan pemerkosaan, delapan tuduhan percobaan perkosaan, 14 tuduhan kekerasan seksual, dan satu tuduhan serangan melalui penetrasi, terhadap total 48 korban. Aksinya itu dilakukan selama beberapa tahun sebelum berakhir pada Juni 2017, ketika seorang korban yang sadar kembali sedang diserang secara seksual, melawan Reynhard dan memanggil polisi.

Di pengadilan, Reynhard dituduh telah melakukan aksi tersebut sejak Januari 2015 hingga Juni 2017. Tetapi polisi percaya bahwa dia telah melakukan penyerangan seksual jauh sebelum itu. Asisten Kepala Polisi Constable Mabbs Hussain mengatakan tingkat pelanggaran yang telah dilakukan Reynhard mungkin tidak akan pernah diketahui. “Kami menduga dia telah melakuka penyerangan (seksual) selama 10 tahun,” katanya. “Informasi dan bukti yang kita peroleh sebagian besar berasal dari ‘piala’ yang dia kumpulkan dari para korban kejahatannya,”
sambungnya. Namun Reynhard membantah semua tuduhan itu dan mengklaim bahwa semua aktivitas seksual itu dilakukan berdasarkan kesepakatan dengan para korban.