Didaktik – “Ciklung .“ Suara nada dering sms masuk ke ponsel androidku, setelah ku baca Delti nama pengirimnya, “ Mbak, malam minggu sibuk gak? Ayo ngopi.“ Ku buka sms darinya.

“Oke, kita ketemu di kafe coklat classik ya Del,“
aku membalas SMS si Delti.
Seperti biasanya budaya mahasiswa dimana-mana setiap malam minggu budayanya ngopi kalau gak ngopi jadi penjaga perpustakaan alias gila baca buku, setelah aku mengiakan perjanjian di kafe, aku gegaskan diri menuju ke kafe coklat klasik yang berlokasi di daerah Dieng, tepatnya dikota Malang, dalam perjalanan aku ditemani tetangga kamar kos, dialah aku dan Rahmah anak timur yang pengetahuan dan tingkat intelegensinya tinggi, hal itu yang membuat aku panas berteman dengan mereka, situasi yang membuat panas selalu menggerakkan diriku untuk berbuat lebih dari mereka, meski aku di jurusan ekonomi aku harus juga menerobos pengetahuan dunia ekonomi makro dan ekonomi mikro hal yang sering di bahas dalam obrolan ku dan kawan-kawan yang lain, hal itulah sesuatu yang positive yang bisa aku ambil dari mereka (fastabiqul khoirots) berlomba-lomba dalam kebaikan bukan saling menjatuhkan, malam Minggu adalah malam yang paling tenang bagi jiwaku, saat jiwaku tenang disitulah awal mula aku focus menulis, menuangkan konsep dan wawasan yang mengalir disetiap hal yang ingin aku utarakan dari tulisan demi tulisan, berdasarkan pemikiran-pemikiran yang bermunculan, malam Minggu aku menulis syair puisi yang ditemani Delti, Yanti, Rahmah, Aini dan kawan- kawan lainnya, sambil menyeduh kopi yang rasanya begitu sangat elastis penuh kenangan.

“Sava, kamu udah ngerjakan tugas gak?” Delti memancing
“Udahlah, kamu itu yang jarang ngerjakan tugas, malah orang yang di tanya.” Sava memberikan nada tinggi kepada Delti.”
“Udah-udah kalian tidak usah bertengkar, kalian ini selalu ribut ya.” Ucap Yanti dengan memotong pembicaraan Sava yang ia tau bahwa Delti anaknya suka memancing emosi orang lain
“Udahlah kalian itu ibarat tom and jerry gak pernah akur.” Ucapku, memotong pertegkaran Delti dan Sava.
“Ya iyalah mbak Tasya, kita mau diskusi apa kalo bukan omongin tugas kuliah?” Ucap Delti dengan lagak overnya
“Ya, ngomongin mantan lah masak tugas terus, apa gak pusing ente mikirin tugas mulu?” Sambung Yanti dalam obrolan kami.
“Idih ngapain ngomongin mantan? Wong mantan itu bikin kita ribet dan ujungnya bikin kita tak bersemangat.” Sava menambah.
“Sava.” Panggilku dengan nada serius.
“Iya mbak Tasya, kenapa?”
“Kamu bisa gak tambah kopiku dengan kopimu?” Ucapku pasang wajah serius.

“Emang kenapa kopimu?” tanya Sava kembali dengan dahinya mengerut.
“Kopiku pahit Sav, ditambah dengan kopi manismu dong, biar kopiku tak sepahit masa lalu.” Celenihku
“Cie-cie hahahahaahahahhaha kampret ne kakak.” Ucap salah satu dari mereka, keadaan yang awalnya hening menjadi pecah dengan bahan tawaan mereka serentak, begitulah kami saling mengisi satu sama lain, kalau ada situasi yang panas dari pertengkaran kecil diantara kami, kami harus memulai bikin humor supaya keadaan kembali tenang.

Terkadang menjadi seorang mahasiswa harus menjaga diri bagaimana agar diri tidak dipandang remeh oleh mata sosial, termasuk temanku satu yang bernama Intan, setiap kali ia ngopi bersama kami, Celenih orang luar selalu menilai negative, padahal bermain gitar adalah salah satu seni yang patut dikembangkan, mayoritas para kaum muda banyak yang tidak mengerti seni tetapi tidak menyadari bahwa dirinya setiap hari melakukan rutinitas seni, seni itu sangat penting, karena seni bagian semangat manusia, seni tidak harus di definisikan dengan bermain gitar, menulis, bernyanyi dan berkarya.

Ada banyak seni yg termasuk ke dalamnya, seni budaya juga termasuk bagian seni, mayoritas para kaum muda tidak mau paham seni sehingga ada banyak yang perlu dikupas pada diskusi malam Minggu ini.
“Iyo rek, sekarang aku di olok-olok sama tetanggaku, katanya buat apa sih kuliah? Wong kuliah gak dapat uang malah ngabisin uang.” Cetus bahasa Delti yang kebawa logat khas Medannya, Delti mulai membuka obrolan kembali setelah jam arlojiku menunjukkan jam sebelas malam,
“Tapi bener juga ya, kita kuliah dapat apa?” Intan mulai berfikir dan bertanya-tanya.
“Aku tau jawabannya.” Ucapku dengan singkat.
“Apa emang kak.” Tanya mereka sambil merajuk aku.
“Aku akan selesaikan enam baris puisiku, kalian seruput dulu kopinya, seraya aku selesaikan nulis dulu ya.”

Ku lirik mereka menyeruput dengan semangat, sebenarnya aku tidak tau apa-apa tetapi dalam lingkaran meja ini aku paling tua, jadi aku merasa akulah panutan mereka, Bismillah negaraku merdeka, aku berupaya memprovokasi mereka sebagai pemuda bangsa dan mengutarakan apa adanya dalam pemikirank dan aku mulai angkat bicara.

“Begini adik-adikku, mahasiswa yang benar-benar dipandang itu ketika ia lulus ia memiliki karya atau seni, nah arti karya atau seni ini kerap tidak dipahami oleh banyak orang, bahkan terkadang mahasiswa itu sendiri tidak paham apa itu seni atau karya, karya yang dimaksudkan disini sesuai dengan bidang atau jurusan mahasiwanya, semisal sava sebagai mahasiswa jurusan ekonomi, jadi ketika sava lulus bagaimana ia menuntut dirinya dari ilmu yang ia miliki ketika lulus sebagai seorang sarjana ia bisa menciptakan karya, entah ia harus menciptakan lapangan kerja ekonomi sehingga ada banyak orang yang bekerja padanya, nah disinilah yang dimaksud karya, karya atau seni yang dapat membantu negara mengurangi pengangguran di indonesia.

Bukan nya Sava jurusan ekonomi kemudian setelah lulus ia mengajukan lamaran, dan bekerja di bank dan dalam beberapa tahun si Sava di hentikan bekerja oleh pihak bank entah disebabkan umur atau beberapa hal yang menuntut dirinya untuk pensiun atau lain semacamnya.”
Ku berusaha menjelaskan secara detail dihadapan mereka yang begitu masih menikmati hangatnya kopi
“Lalu apa bedanya, Kak kan intinya adalah punya pekerjaan?” Tanya Yanti dengan pemikiran kritisnya

“Jelas beda, kalua mahasiswa setelah lulus tidak punya karya atau seni otomatis ia akan bekerja pada perusahaan lain atau orang lain, dan jelas dirinya yang dikelola oleh sistem sampai masa tua ia akan dihentikan, itu sudah strategi perusahaan manapun, berbeda dengan mahasiswa yang memiliki karya atau seni setelah lulus ia akan membuka lapangan kerja bagi masyrakat kebanyakan, dengan ia sendiri yang mengelola sistem sampai ia tuapun ia tetap bisa mengatur bawahannya, sampai karya itu sendiri menjadi aset dalam hidupnya, makanya mahasiswa yang benar-benar dipandang itu hanya bagi ia yang punya karya.”

Aku meyakini Yanti
“Bener juga ya kak, lalu kalau contoh lainnya Kak apa?” Tanya Yanti penuh espektasi setelah menyeruput kopi terakhirnya

“Semisal Delti jurusannya kimia, ketika lulus kuliah nanti ia bisa menemukan ekperimen baru, punya karya baru semisal bisa bikin sampo, sabun, dan soclean merek terbarunya, dari hasil uji cobanya di laboratorium kimia, itu mahasiswa yang dianggap benar-benar mahasiswa dimata sosial, tidakkah kalian fikirkan? dari mana soclean, sabun dan sampo yang setiap kalian gunakan jika bukan dari tangan-tangan dan hasil karya para pakar kimia? Mungkin kalau tidak ada para jurusan kimia sekarang kalian pasti tidak punya wewangian bisa dibilang bau hahaha.” Celenehku dengan tertawa kecil

“Iya juga sih Kak.” Delti menganggukkan kepalanya seraya membawa ekspresi cengang tanda ia sedang berfikir.
“Oh iya Kak, kenapa dari tadi yang dibahas selalu karya?” sambung Rina yang sedari tadi termangu.

“Hayooo, itu kan karena kamu sendiri tidak tau apa itu karya atau seni, karya itu tidak harus karya seperti novel, atau yang berbahan tulisan lainnya, karya itu hal yang bersifat pemmbaharuan atau pengembangan yang hal itu muncul dari seseorang dalam bukti nyata dan bisa diterima oleh masyarakat, itulah seni atau karya.” Jelasku mendetail
“Lalu Kakak sendiri karya apa yang akan jadi aset dalam masa depan Kak Tasya kedepannya?” Tanya Rahmah dengan bawaannya yg memang humoris, lalu kujawab.

“Kalau karyaku adalah mempunyai anak yang banyak, yang akan ku didik sampai bisa mengaji serta pengetahuan yg tinggi, sampai memiliki sikap yang bijak pada sesama, itulah karya yang aku junjung selama ini untuk aset dunia akhiratku kelak, karena tujuan hidupku adalah kualitas akhiratku nanti, mengenai karir aku akan bekerja sama dengan suamiku, berunding lagi apa aku harus bekerja keras atau ia bekerja untuk keluarga? Karir duniawi aku sendiri tidak begitu tertarik, usaha sudah menjadi poin besar, karena setelah usaha, Allah adalah sandaran paling diutamakan.“Kak sudah jam 1 nih ayo kita pulang.“ Sava memotong obrolanku.

“Iya dah ayo pulang, besok aku ada jadwal renang nih di balai kota,” ucap Yanti menambah
“Okelah, aku pesan Grab mobil dulu ya rek.” Usulanku.
Setelah setelan aplikasi Grab mencari pengendara tiba-tiba nomer plat mobil keluar M.N98WH.JK Dari aplikasi Grabku dan nama drivernya “MAMAD” lalu mata kami saling bertemu satu sama lain, membaca nama itu kami tertawa dengan serentak.
“Hahahahahahhaha.”