Didaktik – Diskusi yang diadakan oleh Life Demokratik Force disingkat LDF, pada pukul 20.00 WIB,(22/05/2020).
Bersama bung wawan selaku pendiri dari Lindung Hutan, dan M Khoiri selaku moderator pada diskusi malam ini.

Acara tersebut dilaksanakan secara online dengan memakai platform Whatapps (WA). Selain itu, acara yang bertajuk, Diskusi Educate Yourself ditengah Pandemi, Strategi Ketahanan Pangan pada Masa Pandemi. Sangat ramai dan diikuti lebih dari 90 orang.

Sebelum diskusi ini dimulai, tepat pada pukul 19.45 WIB, (22/05/2020) di sebuah tempat ngopi. Reporter didaktik mewawancarai, Bung Khoiri selaku moderator dan penyelenggara diskusi.

“Seperti tema yang sudah saya katakan tadi, dinamika pendemi covid-19 sangat mengkhawatirkan, ditambah beberapa faktor kemuduran ekonomi, pertanian dan pangan tentu sangat berbahaya, sebagai upaya pengetahuan, maka diskusi ini bertujuan sebagai edukasi strategi pangan dimasa pandemi” ungkap moderator, Bung Khoiri (22/05/2020).

Reporter didaktik, merangkum beberapa poin dari pembahasan diskusi tersebut, antara lain ;

Pertama, Petani tidak hanya mencukupi kebutuhan subtensinya, dan petani juga mencukupi komoditi kebutuhan Negara. Dan pola-pola kapitalisme ditanamkan pelan pelan, sehingga merubah segi gaya hidup, tidak hanya dari kelompok petani semata, melainkan merubah dari setiap segi pemasyarakatan. Banyak orang tidak sadar bahwa gaya hidup mereka juga di pengaruhi globalisasi pesat-pesat. Ungkap bung wawan dalam penyampaian materi diskusi (22/05/2020).

Kedua, Modernisasi pertanian telah obral janji, kasih iming-iming percepatan masa panen, bibit unggul, serta hasil yang melimpah telah membuat para petani dibutakan penglihatannya-ritual yang diwariskan nenek moyang untuk bekerja dan memuliakan alam digeser oleh nilai-nilai pasar dan modal. Kapitalisme perlahan-lahan mencabut kearifan petani atas lahannya saling ketergantungan antara manusia dan lingkungan hidupnya-yang sebenarnya memelihara gemulainya tarian kesuburan dikacaukan oleh kepentingan modal. Negara Indonesia, termasuk yang menyambut dengan suka cita serta memeluk secara suka rela kebijakan pertanian modern pro Barat yang disebut Revolusi Hijau.
Petani menjadi tidak berdaulat atas profesinya, plasma nuftah berangsur-angsur punah, dan pestisida serta insektisida menghancurkan tatanan ekosistem. Manusia meremuk-redamkan kuasa alam. “Kita tidak sedang meningkatkan kesuburan atau hasil produksi, namun hanya menunda kegagalan panen dengan menebar pupuk dan obat-obatan bikinan pabrik. Ungkap bung wawan dalam penyampaian materi diskusi (22/05/2020).

Ketiga, “Bagaimana kita semua belajar hidup sederhana” apapun profesinya kalau gaya hidupnya bak kaum Borjuis yang dalam mimpinya adalah menumpuk harta maka bumi ini tidak akan pernah bisa mencukupi keinginan orang yang rakus. Tapi bagaimana cara meminta masyarakat untuk hidup biasa saja, dengan penuh kesederhanaan, untuk mengorbankan Hidup ‘berpunya’ demi ‘hidup yang sebenarnya’? mungkin ini bukan pertanyaan yang tepat. Pertanyaannya adalah apakah ada cara lain untuk hidup terhormat dalam dunia yang manusiawi? Tuhan Semesta alam sudah memberikan karunia yang cukup untuk memenuhi kebutuhan semua orang dan tentu saja menjadi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang rakus-sampai yang lain mati kelaparan dan sistem ekologi hancur. Ungkap bung wawan dalam penyampaian materi diskusi (22/05/2020).