Didaktik – Judul diatas (Guru bukan dewa yang selalu benar, murid bukan kerbau) merupakan salah satu kutipan terkenal yang di lontarkan oleh seorang aktivis terkenal pada masanya, soe hok gie. Tentu bukan secara tiba-tiba saja kalimat itu bisa muncul dari anak muda yang memang terkenal pendiam tersebut.

Masalah awalnya terjadi ketika soe dan gurunya terlibat dalam perdebatan dan mengakibatkan di tahannya nilai akhir soe. Pada era modern saat ini kejadian seperti itu juga masih sering terjadi tetapi dengan masalah yang lebih bervariasi. Dan hal itu terjadi mulai dari jenjang pendidikan sd hingga bangku perkuliahan.

Mulai dari masalah sepele seperti nilai hingga pelecehan seksual. Seringkali arogansi seorang dosen maupun guru menimbulkan rasa pada diri mereka bahwa mereka memiliki keputusan mutlak yang tidak bisa dibantah oleh mahasiswanya, saya ingin mengambil contoh dengan situasi relevan yang sering para mahasiswa alami. Keterlambatan.

Dosen sangat tidak perlu untuk meminta izin pada mahasiswanya ketika mereka-mereka telat untuk memasuki kelas, persetan dengan mahasiswa yang sudah menunggu lama, karena prinsip dosen adalah lebih baik minta maaf daripada minta izin. Dosenpun seakan tahu seberapa kesal mahasiswanya jika sudah dosen yang meminta maaf, maka tidak bisa tidak mahasiswanya harus memaafkan.

Berbeda sekali perlakuan jika ada seorang mahasiswa yang telat masuk dalam kelas, prosedural perizinan harus tetap jalan, jika tidak banyak ancaman seperti di coretnya absensi hingga yang paling parah adalah diusir dari kelasnya, seberapa kuatpun alasan mahasiswa.

Rasanya menerima masukan dan kritikan, sungguh tidak pernah menjadi hal yang mudah dilakukan di negara ini, jangankan untuk menerima kritik, banyak sekali dosen maupun guru yang selalu ingin dimengerti tanpa mau mengerti orang lain dan terkadang bersikap seenaknya, terlebih saat gelar sebegitu panjangnya tersemat di akhir nama mereka.

“Guru bukan dewa yang selalu benar dan murid bukan kerbau” Ini pengingat bagi saya secara mandiri yang masih ingin masuk ke pelosok negeri untuk mengajar, hemat saya masih terdapat banyak ketidakadilan yang terjadi di dalam dunia pendidikan, baik terhadap guru atau dosen dan juga terhadap murid.

Masa depan bangsa indonesia ini terletak pada pemudanya, lalu bagaimana jika pemudanya yang sekarang terus-terusan mewarisi sifat anti kritik yang diterapkan oleh gurunya, Bangsa ini akan berpindah dari satu generasi pengacau ke generasi pengacau lainnya. Tidak bukan dan tidak lain.

Satu-satunya jalan ialah dengan menghentikan sifat anti kritik tersebut dan mebiarkan interaksi antara guru dan siswanya tidak bersekat tetapi tetap hormat. Mungkin tulisan ini syarat dengan kritik pribadi penulis terhadap dosen tetapi saya rasa juga dapat mewakili perasaan beberapa mahasiswa.