Didaktik – Tak terasa, dua bulan sudah masyarakat Indonesia diminta menjaga jarak, berdiam di rumah, dan mengurangi kegiatan di luar rumah. Beberapa sektor usaha, tak terkecuali sektor seni seakan mengalami mati suri di tengah pandemi. Seni sendiri memiliki ranah yang sangat luas di Indonesia, baik seni modern maupun seni tradisional. Di lingkup seni modern, mungkin kita tak kaget lagi mendengar banyak konser dan festival musik yang dibatalkan karena pandemi covid-19 ini.

Begitu pula dengan fashion show dan pameran seni lainnya. Sementara itu, di ranah kesenian tradisional, banyak pagelaran wayang kulit yang dibatalkan, event festival tari tradisional pun banyak yang diundur dan dibatalkan. Belum lagi banyak paguyuban dan organisasi wayang orang yang diliburkan menyusul kebijakan pemerintah daerah setempat yang memutuskan untuk menutup gedung pertunjukan wayang orang demi keselamatan bersama.

Chanel Youtube : Ngesti Pandowo

Tidak terkecuali Wayang Orang Sriwedari Solo. Gedung wayang orang yang terletak di Jl. Brigjend. Slamet Riyadi No. 275 Kecamatan Laweyan Kota Solo yang menjadi tempat di mana WO Sriwedari rutin pentas ini, juga menjadi korban pandemi covid-19. Sejak pertengahan Maret, pemerintah kota Solo memutuskan untuk menutup Gedung wayang Orang Sriwedari Solo sebagai tindak lanjut penetapan status Kejadian Luar Biasa (KLB) covid-19 di kota Solo menyusul ditemukannya pasien positif covid-19 di kota ini.

Kelompok Wayang Orang Sriwedari Solo yang biasanya menggelar pertunjukan enam kali seminggu, Senin hingga Sabtu, terpaksa harus meliburkan kegiatan. Otomatis bangku – bangku penonton yang biasanya banyak terisi juga kosong melompong. Suatu keadaan yang tidak hanya membuat pekerja seni bersedih namun juga membuat para penikmat seni khususnya seni pertunjukan wayang orang kehilangan hiburan. Bukan hanya Wayang Orang Sriwedari saja yang dihentikan kegiatannya untuk sementara waktu, namun juga beberapa kelompok wayang orang lain di Solo (RRI Solo), di Semarang (Ngesti Pandowo), dan Jakarta (Bharata) serta sanggar seni seperti yayasan Swargaloka Jakarta. Kegiatan yang berkurang atau bahkan vakum otomatis juga mengurangi pendapatan para seniman yang bekerja di sektor ini.

Tak ingin berlama – lama dengan keadaan yang sepertinya belum mereda, Wayang Orang Ngesti Pandowo, Wayang Orang Bharata, Swargaloka, dan Wayang Orang Sriwedari akhirnya memutuskan untuk melakukan atau mengupload pertunjukan daring tanpa penonton yang bisa disaksikan di kanal YouTube dan social media terkait. Untuk Kelompok Ngesti Pandowo, pertunjukan disiarkan lewat kanal YouTube mereka, Ngesti Pandowo official. Pentas biasanya dilakukan seminggu sekali di Panggung Kahanan di Semarang.

Sekilas : Video Wayang Orang

Pentas dilakukan lebih sederhana dengan melibatkan beberapa tokoh wayang saja tidak sebanyak pentas biasanya. Penampilan Ngesti Pandowo juga ditemani oleh penampilan grup seni yang lain, baik modern maupun tradisional.

Dalam tiap kegiatannya dibuka donasi yang nantinya akan ditujukan untuk seniman Jawa Tengah yang terdampak covid-19. Bukan hanya itu, grup ini juga mengupload video pentas lamanya yang berkolaborasi dengan Wayang Orang Bharata tahun 2014 di channel YouTube nya. Tujuannya tetap sama, yakni menghibur pecinta wayang orang yang terpaksa untuk sementara waktu tidak bisa menyaksikan penampilan mereka.

Kelompok Wayang Orang Bharata juga memiliki metode yang hampir sama. Mereka menyelenggarakan pertunjukan daring tiap Sabtu malam jam 19.00 WIB atau jam 21.00 WIB yang bisa diakses melalui channel YouTube nya, WO Bharata Official atau Budaya Saya. Minggu ini mereka meluncurkan sebuah lakon bertitel Gareng Dadi Ratu. Kelompok ini juga membuka donasi bagi para seniman yang terdampak covid-19. Para donatur bisa menyalurkan donasi mereka di nomor rekening yang tercantum di description box video mereka.

Kemudian untuk Swargaloka Jakarta, mereka biasanya mengupload Drayang (Drama Wayang) seminggu dua kali. Program yang dijuluki Drayang The Series ini ditujukan untuk mengobati kerinduan para penikmat seni drama wayang. Pertunjukan ini berbeda dengan pertunjukan wayang orang pada umumnya.

Sekilas : Video Wayang Orang

Jika wayang orang menggunakan bahasa Jawa dan gamelan pun identik dengan gamelan tradisional, bahasa yang digunakan di drama wayang adalah bahasa Indonesia dan diiringi oleh musik yang merupakan perpaduan gamelan dengan instrumen musik modern. Pun dengan variasi tarian yang dipertontonkan disesuaikan dengan perkembangan zaman dengan penggabungan unsur tarian modern.

Pada tanggal 8 Juni lalu Swargaloka menyangkan ulang Drama Wayang Sang Penjaga Hati yang pertama kali dipentaskan di Gedung Kesenian Jakarta Juni 2019 dan meraih sukses besar. Sang Penjaga Hati adalah Drama Wayang gubahan terbaru Swargaloka yang dikemas dengan unsur broadway. Penayangan ini selain ditujukan untuk para penikmat drama wayang terutama di kalangan muda, juga untuk menggalang donasi bagi seniman yang terdampak covid-19.

Terakhir, adalah kelompok Wayang Orang Sriwedari. Setelah hampir dua bulan meliburkan diri, kini kegiatan di paguyuban tersebut menggeliat kembali. Dua minggu ini mereka menggelar pertunjukan daring yang diinisiasi oleh generasi muda di WO Sriwedari. Pertunjukan berdurasi sekitar satu jam. Tidak selama pertunjukan biasanya memang, namun tetap bisa mengobati kerinduan penggemarnya akan pertunjukan WO Sriwedari. Pertunjukan daring ini bisa disaksikan secara live di IG Wayang Orang Sriwedari dan channel YouTube Dinas Kebudayaan Surakarta.

Seperti yang dituturkan oleh Rahma Putri Parimita salah satu pemain WO Sriwedari bahwa pertunjukan daring ini didasari atas banyaknya permintaan dari pecinta wayang orang yang kangen dengan pertunjukan WO Sriwedari. Selain itu pertunjukan itu dibuat untuk menghibur masyarakat yang sedikit banyak tertekan dan jenuh dengan pandemi yang saat ini sedang melanda. Dan yang terakhir juga ditujukan untuk eksistensi WO Sriwedari itu sendiri, tentunya dengan menyesuaikan anjuran pemerintah untuk menjaga kebersihan dan senantiasa jaga jarak.

Untuk pertunjukan daringnya, WO Sriwedari tetap memadukan pertunjukan yang berasaskan tradisi dan juga sekaligus mampu menatap tantangan zaman dengan tetap mengusung cerita wayang yang penuh dengan nilai – nilai kehidupan. Di WO Sriwedari sendiri, Putri, begitu ia biasa disapa, biasa memerankan tokoh Drupadi, Mustakaweni, Banowati, dan Gendari.

Menurutnya, sejauh ini respon masyarakat sangat positif dan antusias menunggu pentas yang akan datang. Untuk selanjutnya, para pemain menunggu surat tugas dari Dinas Kebudayaan Kota Surakarta, karena sebenarnya dua pentas yang lalu, Sembadra Larung dan Sang Jahnawi Suta garapan sutradara WO Sriwedari yang juga masih terhitung kaum milenial, B. Billy Aldi, S.Sn. masih dalam taraf uji coba.

Chanel Youtube : Wayang Orang

Untuk persiapannya sendiri, Putri menuturkan, para pemain biasanya ada pengarahan dari sutradara untuk jalannya alur cerita. Kemudian juga diikuti dengan latihan singkat kencan perangan, kencan antawecana, dan stage blocking.

Di akhir wawancara, Putri juga berpesan untuk saling menguatkan di tengah pandemi yang meresahkan ini. Biarkan yang seniman berkreasi di panggung, sedangkan yang bukan seniman tetap di rumah menonton karya mereka. Ia juga menyampaikan rasa terima kasihnya pada para penggemar WO Sriwedari yang telah setia hingga kini. Bagi yang sudah cinta wayang, diharapkan bisa mengajak kawula muda lainnya untuk turut mencintai wayang dan melestarikan akar budaya bangsa.

Sebagai penutup, setelah pandemi berakhir, ia berharap, WO Sriwedari bisa aktif di pentas lagi dengan kualitas yang lebih baik dan melanjutkan pentas daringnya supaya bisa menembus lapisan masyarakat Indonesia lainnya untuk turut mencintai wayang orang.

Pandemi ini memang belum berakhir, tetapi setidaknya kita, baik sebagai penikmat dan pelaku seni, tetap melihat geliat seni, khususnya seni wayang orang masih terus dan akan terjadi. Akhir kata, mari terus bergiat seni meski di tengah pandemi!


*Terima kasih kak Rahma Putri Parimita dari WO Sriwedari, atas waktunya  dan kesediannya untuk diwawancarai.