Didaktik – 17 Maret 1939 mungkin bisa diartikan hari bersejarah bagi kalangan intelektual nusantara yang dimana pada tanggal tersebut lahirlah tokoh besar yg bernama “Nurcholish Madjid”.

Nurcholish Madjid atau lebih familiar dengan nama “Cak Nur” Ia lahir dan dibesarkan di lingkungan pesantren, maka tak heran pria kelahiran Jombang, 17 Maret 1939 selain mahir bahasa Arab dan juga bahasa Inggris.

Riwayat pendidikan pernah belajar di berbagai Pesantren diantaranya : Pesantren Rejoso, Darul Ulum Jombang, dan Pesantren Gontor di Ponorogo. Selain itu Cak Nur juga menempuh studi pendidikan di perguruan tinggi di Universitas Uin Syarif Hidayatullah dengan program studi sastra Arab (1961-1968).

Sekaligus ia aktif berorganisasi dan menjadi Ketua Umum PB HMI dua periode. Serta salah satu perumus Nilai Dasar Perjuangan (NDP) bersama kedua temannya yaitu Sakib Mahmud dan Endang Syaifudin Anshari yang saat ini dijadikan sebuah landasan ideologis HMI. NDP ditulis beliau tatkala menghadiri sebuah acara dan program beasiswa di Amerika Serikat, dan kala itu berkesempatan untuk melakukan safari di Timur Tengah, dari pengalamannya dalam melihat kondisi Islam secara global itulah yang membuat Cak Nur tergerak untuk menulis NDP.

Dan kemudian melanjutkan studi Doktoral di Universitas Chicago, Amerika Seikat dengan judul disertasi “Ibnu Taimiyah on Kalam and Falasifa”. Mengulas pemikiran Cak Nur membuat saya teringat dengan gagasan beliau tentang istilah “Sekularisasi”. Banyak dari berbagai kalangan dari cendekiawan sampai tokoh Agama yang kontra dengan pemikiran Cak Nur.

Pandangan nya dianggap telah merubah secara fundamental, karena dianggap berbagai kalangan Cak Nur menganjurkan “Sekularisasi” sebagai salah satu bentuk “Liberalisasi” atau pembebasan terhadap pandangan-pandangan keliru yang telah mapan. Dari situ terlebih dahulu kita dudukan konsep sekularisasi Cak Nur sebelum menjustifikasinya. Ia tidak bermaksud menerima paham sekularisme.

Seperti tulisan yang di ungkapkan Cak Nur : Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerangan sekularisme, sebab sekularisme adalah nama sebuah ideologi,sebuah pandangan dunia tertutup yang baru yang berfungsi mirip dengan agama. Dalam hal ini yang dimaksudkan ialah setiap bentuk “perkembangan yang membebaskan”, Proses pembebasan ini diperlukan karena umat Islam, akibat perjalanan sejarahnya sendiri, tidak sanggup lagi membedakan nilai-nilai yang disangkanya Islamis itu, mana yang sifatnya Transenden dan mana yang sifatnya Temporal.


Dengan suatu idiom Islam Yes dan Partai Islam No!.

Sekularisasi tidaklah dimaksudkan sebagai penerapan sekularisme dan mengubah kaum Muslim sebagai sekularis, tetapi dimaksudkan untuk menduniawikan nilai-nilai yang sudah semestinya bersifat duniawi dan melepaskan umat Islam dari kecenderungan untuk Mengukhrawirakannya. Dengan demikian kesediaan mental untuk selalu menguji dan menguji

kembali kebenaran setiap nilai di hadapan kenyataan-kenyataan material, moral maupun historis menjadi sifat kaum Muslim. Lebih lanjut dimaksudkan untuk lebih memantapkan tugas duniawi manusia sebagai “Khalifah Fil Ardh”. Fungsi sebagai Khalifah Fil Ardh itu memberikan ruang bagi adanya kebebasan manusia untuk menetapkan dan memilih sendiri cara dan tindakan-tindakan dalam rangka perbaikan hidupnya diatas bumi ini. Dan sekaligus memberikan pembenaran bagi adanya tanggung jawab manusia atas perbuatannya itu dihadapan Tuhan.


Meskipun sering dituding bahwa, ia berusaha menghilangkan peran Agama dalam kehidupan sehari-hari, di dalam tulisan Cak Nur yang berjudul Islam Kemoderenan dan Keindonesiaan disitulah nampaknya Cak Nur sedang menarik agama kepada fungsinya semula.

Dan yang sangat menarik dari semua tulisan Cak Nur adalah sebanyak-banyaknya referensi pada teori sosial modern dan Cak Nur selalu memulainya dari Al-Quran dan selalu kembali kepada Al-Quran, sebuah pendekatan yang sering dilupakan oleh seorang cendekiawan muslim yang memasuki wilayah analisis dan kajian ilmu sosial.

Ia, berupaya melepaskan agama dari politik kekuasaan dan dari politisasi agama untuk urusan kekuasaan. Kemurnian Islam ialah keluwesan ajarannya seperti “Al Islam Shalihun Li Kulli Wa Makan” yang artinya menembus luasnya ruang (dimanapun) dan berjalan bersama nya waktu (kapanpun). Dan Jargon “Al Islam Ya’lu wa La Yu’la Alaih’ (Islam lebih tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi darinya) seakan menemukan konteksnya yang tepat.

Semoga apa yang telah di tulis Cak Nur bisa bermanfaat bagi setiap pembacanya, #Al-fatihah.

Mari berkometar