Didaktik – Marsinah, nama panggilan seorang buruh dari PT Catur Putera Surya (PT CPS) Ia mungkin sama seperti para buruh-buruh pada umumnya. Tak memahami asal usul komoditas, pengondisian tenaga kerja dan segala praktik dari kapitalis industri guna melipat gandakan keuntungan.
Ia, tak menamakan perjuangannya sebagai potret perjuangan kelas. Sebab, ia sudah merasakannya secara langsung. Masalah perjuangannya dianggap sebagai perjuangan kelas, biarlah waktu yang bicara.

Marsinah adalah sebuah nama yang menyalakan keberanian kelas pekerja pada waktu itu. Padahal saat itu ialah era orde baru. Di mana di era ini, pembungkaman hak berpendapat dan pemberangusan serikat buruh sangat masif terjadi.

Di satu sisi, intervensi yang sangat militeristik dalam dunia perburuhan acapkali masih dilakukan. Salah satunya melalui Surat Keputusan Bakorstanas No.02/Satnas/XII/1990 dan Keputusan Menteri Tenaga Kerja No. 342/Men/1986. Surat itu menegaskan : jika ada bentuk perselisihan antara pengusaha dan buruh, maka yang berhak melakukan mediasi adalah militer.

Kendati memahami resiko yang bakal ia dapatkan, Marsinah tak peduli atas hal itu. Alih-alih mundur dari garis perjuangannya, Marsinah bersama teman-temannya tetap melanjutkan perjuangnya, dengan memperjuangkan hak-hak mereka yang dituangkan dalam sebelas tuntutan
Untuk pertama kalinya, Marsiinah dan teman-temannya melakukan pemogokan pada tanggal 03 Mei 1993.

Saat mogok pertama ini, Koordinator Massa Aksi, Yudo Prakoso dibawa ke kantor Koramil 0816/Porong. Di titik ini, ketegangan antara pihak militer dan para buruh pun baru saja dimulai.

Karena Yudo Prakoso diboyong oleh anggota militer, Marsinah pun bertindak langsung untuk mengambil komando aksi. Marsinah dan kawan-kawannya kembali melakukan pemogokan, pada keesokan harinya, tanggal 04 Mei 1993. Dalam aksi ini, semua tuntutan massa aksi dituruti dimenangkan oleh Marsinah dan kawan-kawan. Kecuali, pembubaran SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia). Satu-satunya serikat pekerja yang pada saat itu dilegalkan oleh orde baru dan kerap bersekutu dengan kelas pengusaha.

Pasca kemenangan itu, tak lama kemudian, hal yang tak diinginkan terjadi, suatu hari Yudo Prakoso, yang sempat dipanggil oleh Kodim, ia mendapatkan surat perintah untuk menulis nama para buruh yang kemarin terlibat dalam aksi pemogokan kerja. Keesokan harinya, ketigabelas buruh itu disodori surat PHK untuk  ditandatangani.
Artinya, mereka bukan di PHK oleh perusahaan, melainkan oleh aparat Kodim

Dua hari berselang, pada tanggal 6 Mei 1993 tak ada satu orang pun melihat keberadaan Marsinah pada saat itu. Hingga tanggal 8 Mei 1993 sebuah kabar mengejutkan datang ditelinga. Nyaris tak percaya tapi ini kenyataan bahwa, Marsinah ditemukan tidak bernyawa, tergeletak dan terpapar di sebuah gubuk pematang sawah Desa Jagong, Nganjuk. Hasil visum Rumah Sakit Umum Nganjuk menunjukkan hasil bahwa ia telah tewas dibunuh.

Pembunuhan itu pun dilakukan secara keji. Ditemukan luka robek tak teratur sepanjang 3 cm di tubuh perempuan itu. Tulang panggul bagian depannya hancur. Selain itu selaput daranya pun robek. Kandung kencing dan usus bagian bawahnya pun memar. Hingga pendarahan di bagian perut kurang lebih satu liter.

Kabar pembunuhan menggegerkan publik, dan pada akhirnya menarik perhatian aktivis HAM.

Munir Said Thalib selaku aktivis HAM mendengar kabar itu, tak lama kemudian ia bergegas bersama kawan-kawannya untuk melakukan advokasi dan investigasi yang diduga dilakukan oleh aparat militer tersebut. Sejak saat itu, Munir diangkat sebagai pengacara untuk kasus Marsinah.

26 tahun berlalu. Orde baru telah lengser sejak tanggal 21 Mei 1998. Namun kasus Marsinah belum lah selesai. Otak pembunuhan Marsinah dari pihak militer, tak kunjung ditemukan, sampai sekarang ini.

Tak ada yang berani membuka, tak ada yang berani bicara.

Itu lah yang membuat sosok Marsinah menjadi salah satu simbol perlawanan yang sejajar dengan aktivis HAM, Munir Said Thalib yang juga dibunuh beberapa tahun setelah reformasi bergulir.
Hal itu semata-mata dilakukan untuk memberikan kabar kepada publik bahwa negara masih memiliki hutang dan tanggung jawab terhadap kasus Marsinah. Selain itu, sampai dengan saat ini sosok Marsinah tetap menjadi symbol perlawanan bagi gerakan buruh. Utamanya sebagai simbol perlawanan terhadap kesewenang-wenangan kelas pengusaha yang kerap bersekongkol dengan aparatus negara.


*ARTIKEL sebelumnya ditulis di Jurnal Rumaka. Dimuat ulang disini semata-mata demi tujuan pengarsipan dan pendidikan.
*Opini Alternatif dari sosok farisfauzan.com sangat menarik untuk dibaca.

Sumber :

-baca : ‘Pembunuhan Buruh Marsinah dan Riwayat Kekejian Aparat Orde Baru:  https://tirto.id/pembunuhan-buruh-marsinah-dan-riwayat-kekejian-aparat-orde-baru-cJSB
-baca : Majalah Tempo berjudul ‘Bermula dari Pembela Buruh’ :
https://majalah.tempo.co/read/laporan-utama/146989/bermula-dari-pembela-buruh
-baca : Laporan Kekerasan Penyidikan dalam Kasus Marsinah oleh Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI) :
https://www.ylbhi.or.id/wp-content/uploads/2018/07/LAPORAN-KASUS-KEKERASAN-PENYIDIK-DALAM-KASUS-MARSINAH-1995-web.pdf&sa=U&ved=2ahUKEwiW_8KlodPnAhXTzDgGHVTwCvEQFjAFegQICBAB&usg=AOvVaw1v08jA899lEIzFVkRZOqD3

Mari berkometar